Nama

Hai hai hai!

So, semalam saya dan Aditya menghadiri gala dinner buat student dan spouse dalam rangka menjelang wisudaan class of 2015. Biar ga wisudaan, kita sih ikutan aja, karena gala dinner means makan gratis means ga usah masak makan malam, yeay!

Selain makan-makan, di acara ini juga ada hiburan musik-musik lokal yang genrenya itu-itu saja. Sembari menikmati musik Arab ajep ajep, kami melihat ada antrian panjang. Ternyata ada photo booth dan calligraphy booth. Kita pilih calligraphy booth pastinya, karena hellowww photo booth mah di Indonesia banyak beut, di mall ampe nikahan orang juga ada.

Ini hasil kaligrafi nama saya:

PSX_20151216_094306

Kewl yaaa. Si mas nya pasti kalo nulis daftar belanjaan juga enak diliat.

Setelah saya post gambar ini di Path, ada komen dari nak Rousyan tentang penulisan nama saya (yang menginspirasi saya untuk nge-post ini, thanks!).

Nama saya Annisa Fitri. Orang tua memberi saya nama demikian karena saya anak wanita yang lahir saat Idul Fitri, artinya juga wanita yang suci. Aamiin.

Tulisan di atas bacanya Anisah Fitri. Dari awal saya ke Saudi, saya heran kenapa orang Middle East selalu nulis nama saya sebagai Anisah, sampai akhirnya room mate saya pas hajj yang orang Egypt jelasin ke saya.

Teman: Your name is beautiful. It’s Arabic word. Do you want me to write it in Arabic?

Saya: Thank you. Yes, sure.

T: (menulis “Anisah”)

S: Hmm…but my name is Annisa, means a woman.

T: Really? But it means friendly person who nice to talk with.

S: ……

Lah, selama 26 tahun ini saya salah mengerti dong. Untung weh artinya masih bagus. Ternyata kalo mau artinya “woman”, namanya ya “Nisa” aja. Hoo, arasseo!

Masalah perbedaan tulisan Latin dan Arabic ini juga terjadi di nama bapak saya. Karena nama saya hanya dua kata (sedangkan kalau mau ke Saudi nama di paspor mesti tiga kata), saya menambahkan nama bapak di belakang nama saya: Rachmad. Nama bapak memang ke-Arab-Arab-an, tapi “dimodif” dikit.

Ketika membuat iqama (Saudi residence ID), instead of رحمت mereka menuliskan sebagai راشماد .

Saya: Hmm tapi mbak, walaupun tulisannya begitu, itu bacanya “Rahmat”, jadi mestinya ditulis sebagai رحمت .

Mbak Arab: Tapi ini bacanya “Rasymad”.

S: Itu bahasa Arab kok, mbak. Di bahasa kami, “ch” dibaca “h” dan “d” dibaca “t”.

MA: Tapi ini dibaca Rasymad, dan saya harus tulis apa adanya.

S: Yowes, ikut kata si mbaknya aja lah.

Jadi, berdasarkan pengalaman ini:

  1. dalam memberikan nama anak mungkin sebaiknya tiga kata,
  2. kalau mau memberikan nama yang ada unsur bahasa asingnya, serap lah apa adanya kalau ga mau dituliskan atau diartikan berbeda,
  3. kalau mau kasih nama anak, cek dulu arti kata tersebut di bahasa lain, jangan sampai artinya jelek.

Untuk poin nomor 3, di sini saya menemukan orang bernama Malass dan Setan. Orang tua pastinya kasih nama yang bagus buat anaknya. Well, saya ga paham artinya Setan dalam bahasa Arab, tapi kalo di bahasa Indonesia, setan dan syaithon artinya sama sama setan. :|

 

 

Pendidikan

Sebagai pasangan muda yang dikelilingi bapak bapak ibu ibu yang sudah memiliki anak lucu lucu, tentunya banyak banget pelajaran yang bisa saya ambil setiap mereka ngobrol ngobrol. Salah satu topik yang paling heitz adalah tentang pendidikan anak-anak.

Salah satu hal yang unik di compound tempat kami tinggal sekarang ini adalah bahwa community-nya (jauuuh) lebih besar dari kampusnya sendiri. Yang kadang membuat saya bertanya-tanya, apakah selain pusing ngurusin hal akademik, pak rektor juga dipusingkan dengan keluhan community tentang bus kampus yang telat dan atap rumah warga yang bocor? Yang lebih unik lagi, dengan community berjumlah 6000++, sepertiganya adalah bocah, dan membuat jumlah student di school >>> student di university.

Sekolah di sini berkurikulum internasional, yang tentu sangat berbeda dengan kurikulum di Indonesia. Di kurikulum ini si anak lebih diarahkan untuk mengenal diri dan potensinya. Kalo suka science ya monggo, kalo anaknya art abis ya monggo. Mereka bahkan dibukakan wawasannya tentang pekerjaan apa yang saat ini belum ada, tapi mungkin bakal lahir saat mereka usia produktif nanti. Ya bayangin aja, jaman emak bapak kita dulu mana kebayang kalo hari gini ada profesi sebagai video blogger.

Salah satu hal yang jadi concern teman-teman di sini adalah ketelatan anaknya untuk calistung dibandingkan dengan anak yang bersekolah di Indonesia. Ya gimana ga, hari gini di Indonesia bocah mau masuk TK udah dites kalkulus sama pidato dulu kali. Luar biasanya lagi, sekarang ada bimbel untuk anak TK (what the…). Meanwhile di luar sana anak anak seumur gitu masih bahagia main main. :))

Menurut saya pribadi sih gapapa ya dijejalin ini itu sejak kecil, asal si anak emang tertarik dan ga tertekan. Toh guru di sini juga bilang, mereka ga bakal buta huruf dan hitung selamanya kok. Pas elementary school, mereka akan bisa baca dan hitung karena ketemu hal itu di sekolah secara regular, saat mereka memang sudah harus fokus untuk belajar.

Yang jadi pertanyaan, apakah perlu bisa baca hitung di usia sedini itu? Apakah dengan bisa baca dan hitung lebih dulu, anak tersebut akan menjadi yang terdepan nantinya?

Language Gap

Haloh! Apa kabar dunia?
Sekarang aku udah kerja loh! 😊

Alhamdulillah 4 bulan yang lalu setelah galau berkepanjangan akhirnya dapet panggilan interview juga. Dan alhamdulillah lancar, langsung diterima dan mulai kerja.

Sekarang aku kerja di salah satu research center di kampus mas nya, jadi admin assistant. Kirain jadi admin assistant santai santai lucuk, ternyata ga juga sih, soalnya kita ngurusin 8 professor dan 100-an postdoc & student. *mabok*
Kerjaannya mulai dari yang penting ampe “penting banget”. Mulai dari ngurusin conference, sampai ngurusin keluhan orang-orang tentang paper shredder yang ga berfungsi karena kepenuhan. 😅

Salah satu yang jadi masalah saat kerja di luar ini adalah urusan komunikasi. Apalagi berinteraksi dengan orang yang nationality dan bahasanya berbeda-beda. Di suatu team lunch, saya baru ngeh kalau kita duduk berdelapan dan nationality-nya ga ada yang sama. Cool!

Dalam komunikasi berbahasa asing, kadang saya wonder apakah orang ngerti dan nangkep, apakah maksud saya tersampaikan, apakah kalimat dan pilihan kata yang saya lontarkan umum digunakan sama native speaker. Kadang walaupun secara struktur kalimat bener, suatu kalimat belum tentu lazim digunakan. Kadang ada juga kata kata dan istilah kece yang biasa mereka gunakan, tapi pas saya diajak ngomong langsung, vocabnya ya muter-muter di situ aja lagi. Hahahuft.

Dalam hal balas membalas email, saya suka mikir lamaaa banget biar kalimatnya ok, ga ambigu dan ga bernada offensive. Kalo lagi stuck, dalam hati suka ngebatin, “asal lo tau, I’m genius in my language.”
*Yaelah nis bahasa Indonesia aja masih campur-campur ga bener* 😂

Batasan bahasa ini ada ok nya juga sih, at least ga jadi gosip-gosipan di kantor dan bisa menahan emosi, soalnya susah buat dipake marah marah. Hahaha… Walaupun ya apa apa jadinya suka terlalu straightforward dan kurang basa-basi. Humm.

Hari ini ceritanya saya lagi lieur karena ada masalah sama satu om prof. Saya sudah berusaha email sejelas mungkin. Ampe minta cek ke temen-temen apakah mereka nangkep maksud kalimat saya. Tapiii, si om prof ini ga ngerti ngerti ampe 3 kali email bolak balik. Berhubung doi orang inggris, saya makin merasa bersalah lah. Apa bahasa inggris saya butut banget ya ampe doi ga ngerti2? Atau, doi memang orangnya rempong aja? Semoga yang kedua sih, berhubung ama prof lain saya akur akur, cuma ama dia doang yang bermasalah terus. 😄

Things We Did in Istanbul (Part 1)

Merhaba!

It was mid of April when I went to campus library with Aditya and found a rack full of Lonely Planet. I was taking the Istanbul guide book home and asking “should we go to Istanbul next month? It looks beautiful!” which Aditya answered with “of course, why not! Just plan the trip, and let me ask my professor if it’s okay for me to take a leave”. Nice!

After got a green light to go, we immediately made the flights reservation, the hostels, and apply for e-visa. We were so excited for this trip! Not more than 2 weeks later, we went to Turkey and stayed for 5 days in Istanbul.

How was Istanbul? It was really really great. Before exploring Istanbul, we got ourselves an Istanbulkart and a Muzekart. Istanbulkart is a smart card for public transportation payment in Istanbul. It can be used for any transportation mode in Istanbul. We got one in the airport and topped it up easily in everywhere. Since the transportation mode in Istanbul is pretty good, this card is very useful. Muzekart is a museum pass that can we buy in one of the museum. The price is 85 TL for 3 days. By using this card, we are able to visit several historical places in Istanbul without having to queue. This card really is a great deal. So, before you go, make sure to check the opening days and hours of each museum so you can plan your museum visits and use this card effectively, LOL. Psst, with this card, we also can get discount on Bosphorus cruise! :p

There are so many things to explore in Istanbul; historical buildings, cultural heritages, local foods, etc.
Check this list of things that we enjoyed during our days in Istanbul for details! :D

Continue reading Things We Did in Istanbul (Part 1)

Hurt Locker dan Sereal

2010. Di tahun tersebut, film Hurt Locker memenangkan banyak nominasi Academy Awards, bersaing dengan film Avatar.

Siapa yang gatau Avatar. Kebanyakan orang pasti sudah menontonnya. Tapi, apa itu Hurt Locker? Ga terkenal. Filmnya sendiri baru tayang di XXI setelah menang Academy Awards. Jangan jangan bagus banget. Sebagai sie kesra/kesejahteraan anggota bagian hura-hura di himpunan, segeralah saya jalan ke Ciwalk, beli 50 tiket film, jarkom ke temen-temen, siapa pun yang mau dateng monggo dateng.

Filmnya tentang team explosion disposal di daerah perang. Ceritanya sendiri saya lupa, tidak berkesan ternyata hufft. Sejak saat itu saya ga percaya lagi sama film film pemenang award. Kadang menurut saya bagus, kadang apa banget. Mungkin ekeu aja yang ga ngerti. Tapi, tiap film memang ada pasarnya masing-masing sih.

Nah balik lagi ke Hurt Locker. Dari sepanjang film yang meledak di sana sini itu, ada satu adegan yang memorable banget, klimaks! Yaitu di ending film saat si pemeran utama (Jeremy Renner) balik ke kehidupan normal, grocery shopping, dan cengo di depan rak sereal. Kayaknya dia bingung. (lupa kenapanya, mungkin karena lama ga di rumah)

Hal itulah yang gw banget!
Sekarang tiap belanja sereal, seringkali saya diam termangu. Bingung pilih ini, atau itu.

Sekarang pertimbangannya banyak. Mau Tesco Strawberry Crisp ga bisa. I love strawberry, but my husband loathe it. Mau Honey Flakes, kata suami kemanisan, ga sehat. Mau yang sehat, mahal (eh tapi harga sereal di sini emang agak nyebelin sih). Mau yang murah ya Corn Flakes, cuma ga enak dan ngebosenin.

Akhirnya pilihan jatuh kepadaaa Bran Flakes. Enak, murah. Tapi udah beberapa bulan terakhir ga ada di supermarket sini. KZL. Masuk tahap mikir-mikir dan coba cobi lagi deh.

Jadi beginilah belanjaan minggu lalu:

image

Hasilnya: Müsli Crunchy kurang enak. Tesco Special Flakes lumayan (lebih enak dari Bran Flakes), tapi suka abis juga di supermarket. Heartland Granola Cereal super enak bingits, tapi isinya dikit, buat sarapan tiga hari langsung abis, jatohnya jadi mahal. -_- (perhitungan banget lah kayak emak emak, muahahaha)

Yah gtu deh. Postingan random aja. Jadi, sereal apa kesukaan kamu?

Ramadhan dan Eid di KAUST

Tadinya mau tulis “Ramadhan and Eid in Saudi Arabia” sebagai judul, tapi karena saya ga ke luar KAUST sepanjang Ramadhan, kayaknya judul di atas lebih cocok. :P

Oh btw, ini Ramadhan dan Eid pertama saya di luar dan jauh dari keluarga. Tentu rasanya cukup berbeda dari biasanya.

So, kayak apa Ramadhan dan Eid di KAUST?

RAMADHAN

Subuh di sini sekitar jam 04.00 dan baru Maghrib sekitar 19.15. Karena cuma berdua dan males ribet masak, biasa kami bangun sahur jam setengah empat lalu makan sereal atau roti sambil kriyep kriyep. Sesekali ngecek hp, buat mastiin waktu Subuh. Ga ada tuh yang reramean jam 2 pagi marching band bangunin sahur. :))

Selama Ramadhan, jam kerja di sini di-adjust jadi jam 07.00 – 14.00 (cepet amat ya pulangnya!), sedangkan mall-mall buka dari menjelang Maghrib sampai jam 2 malem (dengan dipotong waktu shalat dan tarawih). Bus kampus yang menuju mall-mall pun baru berangkat jam 20.00 ke Jeddah dan balik jam 24.00. (jadi bingung orang-orang ini kapan sih tidurnya ya -_-)

Nah, sebenernya dengan jam kerja yang cuma segitu, bakal enak banget kan pulang kerja bisa bobo siang leha-leha ampe buka. Sayangnya, hal tersebut tidak berlaku untuk student yang tetap ngelab sepanjang hari, apalagi ditambah ambil semester pendek yang mesti kuliah dari pagi ampe sore (muahahaha, pukpuk Aditya). Eh tapi enakan gtu sih, pulang ngelab tiba-tiba udah buka. Coba ekeu, guling guling tak tentu arah, mau ke luar rumah panasnya ga kira-kira (siang hari di sini sekitar 42 derajat celcius, mamam gosong!), di dalam rumah aja bosen. Yha begitulah.

Di sini no such thing as ngabuburit dan jajanan bulan puasa. Ngabuburit ke mane pula, di dalam compound gini gini aje. Kangen deh pulang kantor ke Pasar Benhil beli cemal-cemil, pempek, bubur kampiun, ikan bakar. Atau ke Galaxy beli cemal-cemil, es buah, kolak, bubur sumsum. Atau bantuin Ibu siapin makanan berbuka mulai dari gorengan, minuman, sayur, lauk nyam nyam nyam.

Walaupun begitu, komunitas Indonesia di KAUST (KAUST-INA) seru banget, tiap minggu ada buka barengnya. Kadang seminggu dua kali malah! Jadi walaupun puasa jauh dari keluarga, di sini ada keluarga baru. :)

Karena status sekarang unemployed, kerasa banget sih beda bulan puasanya. Biasanya kan abis sahur langsung mandi, siap-siap kerja. Walaupun jam pulang sedikit lebih cepat, seringnya buka puasa di jalan karena macet. Terus suka ada bukber sana sini sama teman-teman.
Kemarin ini karena sepanjang hari di rumah, daripada ga ngapa-ngapain jadi dimulailah kebiasaan-kebiasaan baik yang semoga bisa terus dilanjutkan sampai bulan Ramadhan berikutnya. Aamiin. Terus, sorenya siap-siap buat masak deh. Kalau males masak ya ada campus diner pelarian kita semua. :D

Oh iya, di bulan Ramadhan kemarin, alhamdulillah saya dan Aditya bisa melaksanakan umroh. Ternyata, melaksanakan umroh di bulan Ramadhan itu padatnya…sesuatu. (cek ceritanya di blog Aditya)

EID

Malam takbiran di sini sepi banget. Ga ada suara speaker masjid, apalagi mas mas yang konvoi takbiran.
Pagi harinya, shalat Ied dimulai pukul 06.05 di KAUST Grand Mosque. Di ladies section cukup ramai, anak-anak kecil berkeliling bawa keranjang berisi makanan untuk dibagi-bagikan. Selesai shalat, kami pulang dan video calling dengan orang rumah. Sayang video calling-nya kurang lama karena yang di rumah mau lanjut shalat Jumat dan silaturahim ke rumah saudara-saudara.

Setelah itu, kami berkumpul di rumah Mas Arief & Mbak Tuti. Tidak begitu ramai, hanya tiga keluarga karena yang lain sedang mudik dan lebaran di Mekkah. Tapi, seminggu kemudian kami mengadakan halal bi halal lagi di rumah Mas RK dan Mbak Angi, dengan member yang lebih banyak, lengkap dengan makanan khas lebaran, dan sesi foto-foto. :D

KAUST-INA

KAUST-INA Family
Photo courtesy of Mas RK. Taken from KAUST-INA FB group.

Libur lebaran di sini cukup lama, sampai satu minggu. Most of the time, Aditya pergi ke lab, dan sisanya kami gunakan untuk nge-mall ke Jeddah (kasian hiburannya cuma mall, hahahaa).

Last but not least, buat teman-teman semua kami ucapkan taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin, Eid mubarak! :)

11707694_10204703587165593_2015427311224772694_o

indomie-goreng

Mie Instan

Seperti nature orang Indonesia kebanyakan, saya besar dengan Indomie.

Ibu malas masak, ya Indomie aja.
Pas masih kecil belajar masak apa? Indomie dong.
Bingung makan apa, Indomie aja.
Pokoknya Indomie is part of our life. *lebay*

Keren juga sih si Indomie ini bagaimana dia bisa mendarah daging di raga orang-orang Indonesia. Sampai sampai jarang yang nyebut jenis makanan ini sebagai “mie instan”. Pokoknya apapun merk-nya, sebutannya Indomie. Titik.

Hebatnya lagi, Indomie ini udah go internesyenel pula. Bingung ga bisa makan apa kalo ke luar negeri? Tenanggg, di beberapa negara Indomie di jual di mana-mana kok. Bekel Indomie dari rumah juga praktis. Indomie FTW!
(FYI, di Saudi mungkin karena banyak orang Indonesia, Indomie gampang banget ditemukan. Di supermarket ada, di minimarket ada, kalo ke mall aja ada iklannya).

Nah…herannya, saya ga suka suka amat tuh sama Indomie. Beberapa tahun terakhir malah saya hanya makan indomie satu atau dua kali setahun.

Lah???

Ya, reaksi orang-orang pun macam-macam:

“Whattt?! Anak kosan ga punya Indomie???”
“Indomie itu makanan penyelamat anak kosan tauu!”
“Kamu aneh.”
“Aku speechless………”

Sebenernya awalnya baik-baik saja, tapi……semua itu bermula dari masuknya saya ke HME a.k.a. Himpunan Mahasiswa Elektroteknik…

Dahulu, di markas HME ada penjual mie instan bernama Pak Mamo. Dari pagi sampai malam tanpa lelah Pak Mamo menyeduh mie instan orderan anak-anak himpunan. Karena fasilitas yang seadanya, alhasil pancinya dicuci seadanya dan airnya pun entah kapan diganti. Gimana mie-nya? Baunya awful dan rasanya…entahlah saya tak dapat berkata-kata.

Sejak saat itu, saya pun akhirnya menghindari mie instan. Ga mau makan. Cium baunya pun ogah. Jadi, kalaupun meeting di himpunan, saya duduk jauh jauh dari orang-yang-meeting-sambil-makan-mie-Pak-Mamo. :(

Paling saya berhadapan dengan mie instan ketika pulang ke rumah. Ibu suka buat mie instan ditambah sayuran dan topping macem-macem. Masakan buatan Ibu memang exceptional, selalu luar biasa, mie instan aja rasanya jadi enak kayak mie tek-tek. Apalagi makannya semangkok berdua sama Ibu. Tambah enak. <3

Di luar itu, kemungkinan besar saya tidak dapat ditemukan sedang menyeruput mie instan.

Well, I’ve tried my best to keep my stomach clean by avoiding instant noodle, tapi semua berubah di bulan puasa ini.

Dalam 2 minggu terakhir, kami sudah sahur 3 kali dengan mie goreng instan. T___T

Well, the taste was not so bad, tho. Apalagi kalo pake telor ceplok.
(Sang Suami yang avid Indomie eater pun berkata: “Tuh apa aku bilang, enak kan…~”)

Sedih sih kalo mengingat mie instan tidak baik untuk kesehatan, tapi malas memasak ketika sahur memang tidak ada obatnya.

Dear Suami, abis ini kalau aku malas masak, kita sahur pake roti aja ya biar sehat.
(FYI, ketika post ini di-publish, kami sudah sahur pake roti selama 3 hari berturut-turut. Sekali lagi, malas memasak ketika sahur memang tidak ada obatnya. -_-)

Source gambar: website mie instan favorit kita semua

Nyalon

Salah satu hobi saya adalah nyalon, Bukan nyalon nyalon yang haus kekuasaan gitu, tapi nyalon-nyalonin rambut pastinya. Seneng deh kalo abis nyalon, kepala jadi wangi, diuyek-uyek, dipijit-pijit ampe ngantuk. Hahahaa :’)

Dulu hampir tiap minggu saya ke salon. Kalo weekend ga sempet, kadang saya sempetin abis pulang kerja kalo belum tutup *niat*. Biasanya sih cuma creambath, waxing, potong rambut, atau luluran kalau banyak waktu. Untuk urusan salon sih saya ga remvong dan ga ada salon langganan tertentu. Di mana aja oke asal bersih dan harganya reasonable hemat, beib!. Pada akhirnya sih seringnya ke salon dekat rumah atau salon di mall yang selalu dilewatin kalo pulang kantor.

Nah pas pindah ke Arab, udah mikir-mikir gimanaaa kehidupan persalonan saya kelak. Alhamdulillah di KAUST ada satu salon wanita. Karena beberapa waktu yang lalu rambut saya sudah gondrong dan alhasil jadi rontok parah, saya coba cobi deh salon ini.

Pas jam buka salon, saya langsung telpon untuk nanya availability (iya, mesti reserve dulu, ga bisa go show):

“Pagi, Salon XXX. Ada yang bisa dibantu, kakak?”
“I would like to have a hair cut. Is it available this afternoon before lunch?”
“Yes, please come at 11.30. May I have your name and ID?”
“Annisa, ID number 123456. BTW, how much is it for hair cut?”
“95 SAR, Dear. Do you want shampoo and blow dry as well?”
“How much is it?”
“15 SAR for Shampoo, and *I forgot how much, pokoke mihil* SAR for blow dry.”
“Cuci potong aja. OKTHXBYE.”

Eh aliiiiig, potong rambut + keramas doang 110 SAR. FYI, 1 SAR = 3500 IDR.
Terus moso potong rambut ga sekalian keramas, kurang apaaa gtu. Padahal kan enak keramas di salon; wangi dan dipijet-pijet.

Alhasil karena merasa udah bayar mahal dan gamau rugi, pas rambutnya mau dipotong:

“What style would you like?”
“Just make it the same, but shorter.”
“This long?”
“No, shorter.”
“This long?”
“No, shorter…” (read: I’ve paid a lot, just cut as much as possible. muahahahaha huhu)

Ramadhan Mubarak

image

Horeee besok mulai puasa~

Ramadhan Mubarak. Mohon maaf lahir dan batin semuanya. Semoga ibadahnya selama bulan puasa ini lancar jayaaa.

BTW, deg-degan dan excited banget dalam menyambut bulan puasa kali ini, karena:
1. ini bulan puasa pertama di negeri orang, dan
2. ini bulan puasa pertama sebagai istri orang.
Yang kesimpulannya adalah…mesti bangun earlier dan siapin sahur buat berdua. Kyaaaaa…

Sebelumnya kan bangun sahur 15 menit sebelum imsak, eh udah ada masakan enak buatan ibu. Tinggal mamam, sholat, bobo lagi. Huahaha :’))

Kalo mau sahur gaya cowboy pas jaman-jaman ngekos ya bisa sih, siapin beras, rice cooker, dan chicken nugget 2 pack buat 1 bulan. Laziness at its finest.

Oh iya saking panik dan galaunya kemarin saya ke supermarket beli ayam, kornet, sarden, tuna chunks. Gatau mau dibuat apa, yang penting hati tenang. Padahal mungkin nanti realitanya cuma sahur pake roti atau sereal kayak sarapan biasa.

Sekali lagi, selamat menjalani ibadah di bulan puasa semuanya. Semoga ibadah kita ga sekedar menahan haus dan lapar aja, tapi juga bisa diisi dengan amalan lain dan bisa menghindarkan diri dari perbuatan yang sia-sia. Aamiin :)

A glimpse of life in KAUST

early morning stroll - The Beacon of KAUST
The Beacon of KAUST

Three months ago I was moving to KAUST, following my husband who is pursuing his doctoral degree here.
FYI, KAUST is a research university located in Thuwal, Saudi Arabia, around 100 km from Jeddah.
I’ve never imagined that one day I will have to live in this country, with all of their strict rules. Long before my departure, my mother already advised me this and that; take care of yourself, don’t go anywhere alone, don’t take a taxi by yourself, use sunblock, etc etc etc. Well, her anxiety is understandable, tho. :))

In Saudi Arabia, there are several compounds which have quite different rules with the local norms. And KAUST is one of them. Here in KAUST, people can dress up more freely (but still appropriate) and women are allowed to go anywhere within campus by themselves.

Turns out, living in KAUST is very different from what I’ve imagined, in a positive way. Yeayyy! :D

One of the best thing of KAUST is that they support the relocation of their faculty and staff members (and families) very well and smooth. They helped to book our travel, and then on the appointed date of our arrival to Saudi Arabia, one of KAUST team greet us in the arrival gate and assist us through the immigration and customs, which is great. More than that, one driver were already assigned to pick us up at the airport and take us to KAUST. :’)

HOUSING AND FACILITIES

People in KAUST can enjoy a unique and multi-cultural living experience with great housing and amenities. We got an apartment for married couple with no child. Apartment building that we are living in consists of 12 units, each of them is two stories. The unit is fully-furnished, completed with electricity, water and high-speed internet. The space also big enough for two of us.

Besides the apartment, there are another variety of housing offered in KAUST: townhouses and villas. All of them designed in modern Arabesque style, and all of them are look-alike. Hahaha

The facilities in this neighborhood are great. We have access to medical clinic, supermarket, gym, golf course, water activity in the Red Sea (yes, we live alongside the Red Sea), cinema, day care, school and restaurant. Well, there are not many choices of restaurant here which makes me really missed my time in Jakarta where I can find any type of food with reasonable price. :”(

Besides restaurant we also have campus diner which I visit when I am not likely to cook a.k.a. almost every day. :))
There are many variety of food in the diner; local food, pasta, pizza, noodle, various desserts anddd nasi goreng with chicken satay! The taste of nasi goreng is so-so (I think I should recommend bumbu kokita to the chef, hahaha), but the chicken satay is great! I wonder why they not serve chicken satay separately, I will definitely order it.
FYI, most ordered item at Campus Diner for me is the value meal. Value meal = carb + veggie + 2 main course + salad + soup + dessert + mineral water = 23 SR, enough to be shared with my husband, hahaha.

Jumbo portion of value meal at Campus Diner :O
Jumbo portion of value meal at Campus Diner. Heavy breathing…

Back in Indonesia, I really love to spend my spare time watching new movies at the cinema. For me, watching movie together is refreshing, and watching movie alone is my kind of me-time. So, actually there is one KAUST facilities that I really grateful for, CINEMA! Since there is no movie theater in Saudi Arabia, having one in this compound is a bliss.

TRANSPORTATION

Campus offers shuttle bus to commute within the university and residential area. But after I bought a bike, I prefer to use my bike to go around campus since riding a bike around campus is very safe and comfortable (yeah, despite the heat in the midday, of course). This place is very bike-able, me love it!

Buses are also available for off-campus trip. Those buses go to several malls in Jeddah and also to Mecca and Medina. This off-campus bus is very helpful since we don’t have a car and not planning to have one in the near future. After all, it seems that driving outside campus is not comfortable; traffic jam and reckless drivers.

COMMUNITY

It is said that around 6000 people from 100 countries are living here, which makes living in this compound is such a multi-cultural experience. What I love about the community is how everyone really kind and helpful toward each other. It’s like everybody have a good intention to make this small community even better. This good feeling is also felt inside the Indonesian community at KAUST, a small community consists of around 15 Indonesian families. :)

UTOPIA

A utopia (/juːˈtoʊpiə/ yoo-TOH-pee-ə) is a community or society possessing highly desirable or near perfect qualities.

I feel that living in KAUST is like utopia. Everything is nearly perfect and in place. Things are too good to be true. Sometimes, I think: how to live in the real world again someday, can I accept all the imperfections? Hahahaha :))