Bali Trip (4): Sukawati, Tampaksiring, Perkebunan Kopi Luwak, Kintamani

lanjut lanjut cerita liburan di bali, hari keempat :)

Kamis, 13 Januari 2011

Perjalanan hari ini dimulai dengan belanja belanja di…

PASAR SUKAWATI

Yah, saya paling bingung kalo disuruh belanja oleh-oleh. Maunya kalo minta oleh-oleh tuh yang spesifik gtu, misal: “Nis, bawain kain Bali ya” atau”Nis bawain pasir pantai ya”, jangan cuma “Bawain oleh-oleh ya”. Bikin bingung, haha..

Akhirnya Ibu aja yang sibuk belanja-belanja ini itu. Nawar sadis di sini situ. Gw sih ngeliatin dan bawain barang belanjaan aja. Hahaha…

Mau beli barang buat diri sendiri juga bingung. Kalo lagi ga kepengen sesuatu emang biasanya jadi ga dapet apa-apa.

Abis belanja, kita ke…

PURA TIRTA EMPUL TAMPAKSIRING

bagian depan Pura Tirta Empul

Menurut namanya, Pura Tirta Empul Tampaksiring berarti air suci (tirta empul). Air suci ini konon berasal dari mata air yang diciptakan oleh Dewa Indra pada abad ke-2 SM. Air suci ini diciptakan untuk menyembuhkan pasukan Bhatara Indra yang keracunan akibat diracuninya mata air oleh Raja Mayadenawa. Mata air ini sampai sekarang masih aktif dan terus mengeluarkan air baik di musim panas ataupun musim hujan.

Terdapat beberapa pemandian dan banyak pancuran di Pura Tirta Empul. Setiap pancuran memiliki nama dan kegunaan sendiri. Ada yang untuk menyembuhkan orang sakit, ada yang untuk memandikan orang yang meninggal, dan lain-lain. Selain itu terdapat sebuah kolam khusus yang tertutup yang digunakan untuk memandikan barang-barang yang dikeramatkan.

Dari Pura ke atas kita dapat melihat bangunan seperti tempat peristirahatan. Bangunan itu adalah istana kepresidenan yang dibangun pada masa Soekarno yang lebih dikenal dengan nama Istana Tampaksiring. Terdapat dua bangunan, Wisma Merdeka dan Wisma Bima. Salah satu wisma tersebut digunakan sebagai tempat peristirahatan tamu kenegaraan. Kedua wisma tersebut dihubungkan dengan jembatan persahabatan. Dulu, tempat tersebut dibuka untuk umum, namun setelah tragedi Bom Bali, tempat tersebut ditutup untuk umum sehingga kita hanya dapat melihatnya dari area Pura saja.

kolam pemandian, pura, dan istana tampaksiring

Area Pura masih aktif untuk beribadah. Di bagian depan area Pura terdapat semacam balai. Balai itu digunakan untuk melangsungkan acara dan untuk tempat kumpul, rapat, dan mempersiapkan acara tersebut. Di dalam area Pura terdapat tempat sabung ayam. Namun, sabung ayam ini bukan untuk judi. Darah ayam yang mati nantinya akan digunakan untuk upacara.

(Oh iya, karena memasuki tempat suci, saya dan Ibu harus mengenakan kain panjang. :D )

Di dekat pintu keluar terdapat kolam besar yang berisi ikan koi. Ikan-ikan ini biasa dibawa ke sini oleh pengunjung yang pada kunjungan sebelumnya mengambil air dari mata air. Ikan ini kemudian dirawat dan tumbuh menjadi sangaaaaat besar.

kolam ikan koi

Yap, sekian cerita di Pura Tirta Empul Tampaksiring. Terima kasih kepada pak pemandu yang telah menceritakan semua hal di atas. Terima kasih juga telah menjadi fotografer yang oke. Dan terima kasih sangat atas segala niatnya untuk jalan jauh demi mengambilkan saya bunga Jepun Bali (yang akhirnya saya pake seharian ampe pulang ke hotel). :)

Dari sini, perjalanan dilanjutkan ke…

TAMAN NADI KOPI LUWAK

Daerahnya tidak jauh dari Pura Tirta Empul. Masih berada di wilayah Tampaksiring, Gianyar, Bali. Jadi sepanjang jalan ini adalah kawasan agrobisnis. Saya dan Ibu mengunjungi salah satunya, Taman Nadi Kopi Luwak, untuk mencoba kopi luwak yang katanya enak itu.

Sebagai tempat agrobisnis dan agrowisata, tempatnya cukup enak. Dari depan kita akan dibawa oleh pemandu melalui kebun-berbagai-macam-tanaman yang tertata rapi. Ada pohon kopi robusta, kopi arabica, kopi bali, vanilla, cengkeh, nanas, coklat, kayu manis, dan lain-lain.

Setelah itu, terdapat pondok kecil di mana kita dapat melihat pengolahan kopi dan mengetahui berbagai jenis biji kopi. Biasanya biji kopi yang dipanen selanjutnya dibersihkan lalu di sangrai. Pembeli dapat membeli kopi yang masih berbentuk biji ataupun yang sudah berbentuk bubuk. Bisa liat juga seekor luwak peliharaan si empunya. Ternyata luwak mirip-mirip musang gtu.

Selanjutnya kita dibawa ke pondok tempat untuk menyicip berbagai macam minuman yang diproduksi oleh perkebunan ini. Bisa coba secangkir kecil kopi Bali, kopi ginseng, teh, coklat, bahkan tuak. Tapi, kita harus bayar Rp50.000 untuk secangkir kecil kopi luwak.

Kata si Bli nya, kopi luwak tuh mahal karena produksinya sedikit dan luwaknya liar (bukan peliharaan). Jadi saat panen, kopi ga langsung dipanen, tapi didiamkan di pohon sampai satu bulan sehingga luwak-luwak bisa makan. Lalu, cari deh pup nya si luwak di sepanjang perkebunan. Pas gw liat, ternyata pup luwak ga semenjijikan itu. Pup nya tergolong ‘bersih’ dan tidak bau. Cukup beberapa kali proses pembersihan, biji kopi yang dimakan luwak udah bisa masuk tahap proses selanjutnya.

Kopi luwak menurut saya sangat mahal. Kalo gw ga salah ingat, di sana dijual Rp400.000 per 100gr. Biasanya yang suka beli kopi luwak tuh wisatawan dari Rusia. Kopi luwak dengan kayu manis katanya padanan yang sangat pas. Bahkan orang Rusia sering kali ngunyah kayu manis. Kabarnya, kayu manis sangat baik sebagai pengganti gula bagi penderita diabetes.

Selain kopi Luwak, di sini kopi Bali nya juga enak. Harganya tidak semahal kopi luwak, ‘hanya’ Rp150.000 per 100gr. Tapi menurut saya, yang paling enak adalah kopi ginseng nya. Rasanya kayak kopi susu tapi anget pas diseruput. Nyaaam… Ohya, ginseng yang digunakan bukan ginseng Korea. Lupa jenis ginseng apa, yang jelas ukurannya lebih kecil tapi masa tanamnya lebih cepat dari ginseng Korea.

Setelah muter-muter perkebunan, liat-liat, icip-icip, dan belanja-belanja, kita lanjut ke…

KINTAMANI

Yap Kintamani, tempatnya anjing ras asli Bali! Tapi sayang gw ga ke daerah tempat anjing-anjing itu, melainkan ke Gunung dan Danau Batur.

Gunung Batur merupakan gunung berapi yang masih aktif di Bali. Di tepi gunungnya masih ada jejak vulkanik gtu. Disekelilingnya ada Danau Batur. Kalo ingin tau topografi gunungnya lebih jelas bisa diliat di wikipedia. :p

Yang menarik dari daerah Gunung Batur ini adalah Desa Trunyan. Desa Trunyan terkenal karena proses penguburan mayatnya yang tidak biasa. Mayat diletakkan begitu saja di bawah pohon, hanya ditutupi kain. Tidak dikubur. Terdapat tiga lokasi ‘pekuburan’ di daerah tersebut: lokasi untuk mayat yang meninggal normal, tidak normal, dan anak-anak.

Walaupun mayat tidak dikuburkan, anehnya mayat ini tidak akan berbau busuk, malah baunya akan wangi. Hal tersebut katanya dikarenakan Teru Menyan (pohon menyan) yang hanya ada di sana, nama pohon yang juga menjadi nama desa setempat. Mistis sekali. Karena sewangi apapun harum yang dikeluarkan pohon tersebut seharusnya indera penciuman kita dapat membedakan bau wangi dan bau busuk. Selain itu, kabarnya mayat-mayat di sana tidak membusuk, melainkan ‘rontok’ dan ‘terkikis’ perlahan-lahan sampai akhirnya hanya tersisa tengkorak-tengkorak di bawah pohon.

Sesungguhnya saya sangat tertarik untuk kesana. Untuk mencapai daerah tersebut, kita harus berperahu sekitar 15 menit. Namun saya diperingatkan oleh supir saya untuk tidak kesana karena saya dan Ibu hanya berdua dan kita berdua perempuan. Takutnya diisengin ama mas-mas perahu dan ditinggal di sana bareng tumpukan mayat. Hiiiyyy…ngeri juga gimana baliknya, masa’ berenang… >_<

Sambil mendengar cerita-cerita tentang Desa Trunyan itu dari supir saya, Pak Komang, kita makan di Restoran Batur Sari. Restoran yang aneh menurut saya. Makanannya mahal-mahal banget. Satu jenis bisa Rp50.000 – Rp70.000 an. Sedangkan kalo all you can eat jadinya Rp85.000 per orang. Ya pilih all you can eat lah! Kalo rasa sih, hmm rasa makanannya biasa biasa aja. Heuuu kenapa di Bali semua makanan mahal ya, blom lagi pajaknya yang ga bersahabat -_-

Yang enak dari resto ini adalah viewnya! Dari tempat makan, kita bisa face-to-face ama Gunung Batur. Liat ke bawah langsung jurang. Kyaaa asik banget. Udaranya dingin dan sejuk pula.

view dari tempat makan
view dari meja makan

Hari ini, Kintamani adalah akhir perjalanan kita. Selanjutnya kita kembali ke hotel dengan jarak tempuh sekitar 2 jam blom lagi ditambah macet. Fyuhhh…

hari yang sangat macem-macem. banyak dapet cerita dan pengetahuan baru. senaaang :)

2 thoughts on “Bali Trip (4): Sukawati, Tampaksiring, Perkebunan Kopi Luwak, Kintamani

  1. Hi,
    We are the suave coffee from Hong Kong. We supply best wild kopi Luwak coffee bean single origin frrom Indonesia. Wild and pure 100% wild Luwak from single origin. Luwak Coffee are carefully cleaned, natural sun dried, quality controlled, preserve the best Luwak beans. graded almost zero defect bean by international quality standard.

    Our Luwak coffee have a specific aroma that differ from ordinary coffee from same location or any places on earth, Once you test the original cup of Luwak coffee, you never forgot the taste and aroma, just like a typical perfume of coffee. The coffees we presented were some of the best in the comp and cupped in the mid 80’s.
    Limited Stock by booked order:
    USD 5.5 per cup on average

    Contact us to prove you for real of Luwak coffee:
    thesuavecoffee@gmail.com
    Alan Yeung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s