skandal film impor, film asing, film lokal, bioskop. ahh dilema…

 

Kemarin saya nonton Harry Potter and The Deathly Hallows part 2 (HPDH2). Yeay! Tiketnya sendiri saya beli saat pre-sale dua hari sebelumnya sebagai langkah antisipasi panjangnya antrian dan penuhnya kapasitas bioskop akibat manusia-manusia yang lapar akan film bermutu. Aiiih…

Semenjak terkuaknya skandal film impor di Indonesia (bisa baca referensi di sini, sini, sini yang saya dapet dari sini), beberapa bulan terakhir ini bioskop jadi kering film asing. Padahal mayoritas film yang ditayangkan bioskop adalah film asing karena produksi film dalam negeri masih tergolong rendah. Otomatis bioskop jadi kering film. Otomatis saya jadi ga ada tontonan. Otomatis hidup saya hampa. :-|

Nah, saat ini film asing yang di banned dari bioskop dalam negeri perlahan-lahan mulai masuk. Pencerahan nih bagi para pecinta film, apalagi summer movies menarik-menarik kan! Eh tapi, apakah masalahnya sudah selesai? Oo oo oo be-lum se-le-sai. Jadi kalo yang saya tangkap setelah baca tulisan-tulisan pada link di atas sih, ternyata si pajak blablabla yang nunggak miliaran itu blom dibayar tapi film-film asing udah boleh masuk demi memuaskan keinginan masyarakat Indonesia. Eh iya gitu ga sih? CMIIW.

Berita: "HPDH2 dan Transformer 3 sudah masuk LSF dan siap tayang beberapa saat lagi!"
Saya: (superyeay; nari-nari gurita) \(^o^)/
---
(beberapa saat kemudian, setelah dapat dan baca tulisan pada link di atas)
Saya: (ga jadi supersenang) :-|

Lho, kenapa saya “:-|”? Di satu sisi, saya sedih karena pemerintah ga tegas dengan peraturan yang udah mereka buat. Di sisi lain, saya senang banget karena dapat menikmati film-film asing lagi di bioskop.

Bukannya saya ga mau nonton film lokal, tapiii…oke jujur aja, sekarang apa sih yang bisa diharapkan dari film dalam negeri? Mostly, ga ada isi ceritanya. Cuma menonjolkan hantu-hantuan & tubuh-tubuh seksi pemeran wanitanya atau komedi garing & (lagi-lagi) tubuh-tubuh seksi pemeran wanitanya. Hmm, sorry to say ya, bukan ga menghargai hasil kerja para pembuat film tersebut, tapi itu sampah. Saya ga butuh tontonan ga mendidik dan ga bermutu seperti itu. Dari jejeran film Indonesia yang terpampang di bioskop akhir-akhir ini, sepertinya cuma Catatan Harian Si Boy aja yang layak tonton.

Dengan tidak adanya film berkualitas di bioskop, sebenernya masih ada opsi lain sih untuk menikmati film, yaitu: (1) nonton di negara tetangga, atau (2) nonton bajakan. Pendapatan negara tetangga dari tourism bisa jadi bertambah karena orang-orang yang mampu mungkin bela-belain nonton di sana daripada tidak sama sekali. Hmm.., hitung-hitung amal kali ya nambahin devisa negara lain. Kalau yang tidak mampu bela-belain nonton sampai ke luar negeri ya cara paling mudah dan murah tentunya nonton bajakan walaupun harus nunggu beberapa waktu sampai copy-annya bagus. Trade-off waktu dan biaya. Kalau yang ini ga menguntungkan negara lain, tapi ga menguntungkan negara sendiri juga, adanya menguntungkan pembajak dan penjual. :P

Ah heran saya. Hal menyenangkan kayak nonton film aja bisa jadi ga menyenangkan ya? Ayolah pemerintah, ditegaskan atuh peraturannya, dihukum yang salah, disuruh bayar yang ngutang. Saya kan mau nonton film dengan damai lagi.

BTW, jadinya mendingan pilih: (1) ga nonton, (2) nonton di bioskop, (3) nonton di negara tetangga, (4) nonton bajakan? :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s