Bandung sejenak

Jumat, 21 September 2012

(dialing +62-21-889-xxxx)
A: Dengan travel di sini, selamat siang.
B: Siang. Mau booking untuk besok. Paling pagi ada jam berapa ya?
A: Jam 5, jam 6, jam 8.
B: Booking 1 seat untuk jam 6 ya. Makasih.

(dialing +62-22-8206-xxxx)
A: Travel di sini, selamat siang ada yang bisa saya bantu.
B: Siang. Mau booking untuk besok. Sore sore adanya jam berapa ya?
A: Jam 3 atau jam 5.
B: Oke, booking 1 seat di jam 3 ya. Thanks.

Sabtu, 23 September 2012

Jam 4.30 alarm berbunyi. Haaah, masih ngantuk rasanya, berhubung semalam tidur larut. Setelah beberapa kali meng-snooze alarm, akhirnya saya bangun jam 5. Bener-bener luar biasa. Untuk saya. Weekend, harap dicatat.
Saya langsung ke kamar mandi dengan setengah nyawa belum terkumpul. Duduk termenung di kloset memikirkan dunia. Lalu bergegas mandi. Tak terasa sudah setengah jam. Lima belas menit saya habiskan berdandan dan memilih baju. Buka lemari, pakai baju, ngaca, lempar ke kasur. Repeat sampai berasa nyaman.
Lima menit saya berpamitan pada orang tua dan mencari kunci rumah. Keluar rumah setengah berlari menuju pangkalan ojeg, memanggil ojeg dan mengebut menuju travel.

Jam di tangan menunjukkan pukul 5.56 which means 4 menit menuju keberangkatan travel. Panik, saya menelepon travel. Mas mas travel mengangkat telepon dengan suara malas terkantuk-kantuk. Saya minta ditunggu sebentaaarrr saja. Setelah itu saya berpikir, inilah nikmatnya jadi deadliner, this adrenaline rush. Ahh rasa di mana dikejar-kejar ini sungguh menyenangkan. Am I weird?
Akhirnya, sampailah ojeg kilat ini di satu-satunya traffic light yang harus dihadapi pagi ini menuju travel. Traffic light menunjukkan angka 97 dengan warna merah. Saya melihat jam tangan menunjukkan pukul 6.00. Demmm…lama benerrr…
Setelah lolos dari traffic light, dari kejauhan masih terlihat mobil travel di parkir, haah legaaa. Dan ternyata jam saya kelebihan 5 menit dari jam di travel. Alhamdulillah. Thank God. Entah kenapa saya sangat ingin ke Bandung hari ini. Setelah memasuki mobil travel, tidak ada yang saya ingat sampai saya tersadar mobil sudah memasuki gerbang tol Pasteur.

Di pool travel, saya menelepon seorang teman, Ifa, menanyakan letak kosan barunya. Dengan tenaga yang telah di charge selama tidur dua jam perjalanan tadi, saya jalan dari Cihampelas bawah menuju pasar bunga Wastukencana untuk naik angkot. Ah jalan kaki, pagi hari di Bandung, Balubur, ITB, Dago, Simpang, kangeeennn!

Di kosan Ifa, kami menunggu seorang teman lagi, Ria, untuk pergi brunch. Ria dan Ifa were my very first friends in college. Kami juga satu kosan dulu.
Lima tahun yang lalu, tanggal 14 Agustus, kami bertemu di Sabuga sebagai satu kelompok 123 di PMB, acara Penerimaan Mahasiswa Baru.

Karena cacing cacing di perut sedang ingin makan pizza, akhirnya saya, Ifa, dan Ria pergi ke Pizza Hut Dago. Kami duduk di sofa yang dekat jendela. Tempat duduk yang memorable untuk salah satu teman saya.
Pencatat pesanan kami adalah mas mas yang tebar pesona banget. Berasa ganteng mas? Kami hanya bisa ketawa-ketawa dengan bagaimana mas mas tersebut merespon pertanyaan kami dengan kerlingan mata nan lebay. Oh iya, satu yang aneh, mas mas ini sepertinya lupa SOP untuk menyebutkan “pesanan yang tepat sekali!” Padahal itu kalimat yang selalu saya nantikan setiap datang ke Pizza Hut. :))
Medium pizza, sausage, potato wedges, bruschetta dan soup sudah datang. Kami makan seperti lupa rasanya makan. Setelah beberapa waktu, ritme makan pun melambat, sampailah kami di tahap “kenyang ampe bego”.

Waktu masih tengah hari, akhirnya kami memutuskan untuk ke kampus, duduk duduk di Plawid, Plaza Widya, Indonesia Tenggelam, apapun lah sebutannya itu.

Plawid ini tempat yang memorable banget untuk kami. Setelah PMB 5 tahun yang lalu, setiap hari selama setahun kelompok 123 kami berkumpul di sini. Hal ini diawali dengan tugas kelompok PMB yang memaksa kami untuk terus berkumpul selama beberapa hari. Karena tidak punya basecamp, akhirnya teras Labtek 8 ini kami hak milik jadi basecamp. >:D

Saya lupa bagaimana kami tiba-tiba jadi akrab. It just happened.
Saat itu masih PMB, sangat segar di ingatan saya bahwa hari itu kami diharuskan menggunakan training ITB. Setelah rangkaian acara yang melelahkan, kami makan di Gelap Nyawang, dan tidak mau pulang. Taplok kami, mama Icca dan papa ET pun sampai capek menyuruh kami pulang. Yang ada, kami duduk-duduk di Kubus, depan kampus, sampai malam, dan entah bagaimana berakhir dengan tidur-tiduran di sana, melihat langit, and suprisingly saat itu ada fireworks dari arah Aula Timur. Baguuus… :)
Saat itu saya masih tinggal di rumah saudara di Moh. Ramdan, karena terlalu malam akhirnya saya menginap di Rere, teman 123 yang ngekos di Cisitu. Yang tak lama kemudian mendorong saya untuk pindah ke daerah kosan Cisitu juga.

Jaman TPB, Jumat sore adalah jadwalnya ujian. Setiap Jumat pagi, setelah kuliah bahasa, kami berkumpul dengan membawa kertas-kertas dan alat tulis ke teras Labtek 8. Belajar bersama sampai jam tiga kurang sedikit. Pilar paling ujung adalah spotnya Yoga dan Arief. Pilar tengah adalah spotnya Rienzy dan Said. Sedangkan saya, Ria, Ifa berserakan di tengah-tengah. Katel dan Ega yang jurusan seni rupa, gangguin kami yang bakal ujian mata kuliah khusus teknik.
Selesai belajar bersama biasanya kami taruhan siapa yang akan keluar duluan dari ruangan ujian, entah karena jago atau pasrah. Dan biasanya Nji yang pintar selesai duluan.

Suatu waktu, anak seni rupa sedang sibuk dengan tugas gambar dan nirmana-nya, semacam membuat suatu bentuk 3D dari sedotan dan bahan-bahan lainnya. Kami membantu Katel dan Ega untuk memotong sedotan-sedotan, menyusun bentuk yang lagi-lagi rubuh karena tangan kasar ini. Pernah juga suatu hari kami bermalam di teras kosan Ria, kosan muslimah di mana cowo-cowo ga boleh masuk, membantu Katel untuk tugas menggambar. Padahal malam itu sangat dingin, tapi kami ber-9 tidur terduduk di teras kosan yang luasnya ga lebih besar dari 5×2 meter. Demi ngejar deadline tugas Katel! Dan hasilnya, satu gambar yang dikerubungi lima orang itu ‘agak hancur’ karena tangan-tangan anak teknik yang tidak gemulai ini membuat tintanya keluar garis kemana-mana. :))

Saat tingkat 2, sadly kegiatan tadi sudah mulai berkurang drastis, mostly karena kuliah dan kegiatan masing-masing. Tapi untungnya masih ada suka kumpul untuk sekedar makan atau nonton.

Lima tahun kemudian, di Plawid, cuma ada saya, Ria, dan Ifa yang memandang ke air mancur Indonesia Tenggelam yang ogah-ogahan, melihat bocah-bocah di kampus berseliweran, dan sesekali mendengar teriakan ospek jurusan anak-anak 2011 yang masih semangat. OMG, we’re old!

What were we doing there at Plawid? Nothing. Just having chit chat about life nowadays and wandering our mind around remembering the past.

Saat ini Ifa masih di Bandung setelah tiga periode postponed sidang karena sang pembimbing. Ria is having hard days, too. Love life. Me either. Facing this long distance relationship is hard, I might say.
Terkadang saat kami bercerita, mata masing-masing mulai panas dan kami hanya bisa diam dan saling mendukung. Bahkan di saat seperti itu, air mancur di Indonesia Tenggelam pun bisa bercanda untuk mendukung kami. Saat kami bersedih, tiba-tiba air mancur ogah-ogahan itu memancarkan air, seakan mewakili supaya kami tidak perlu menangis di depan umum. Saat kami cerita hal menyenangkan, otomatis air mancur pun diam. Hahaha, selama dua jam kejadian tersebut berlangsung. Seakan ada orang misterius yang mengamati kami sambil memegang kendali keran air mancur. Hey siapa pun itu, mengakulah! :))

Obrolan pun akhirnya sampai membahas teman-teman saat ini. Saya, Ria, Said dan Yoga sudah bekerja di Jakarta. Ega masih di Bandung. Begitupun dengan Ifa dan Arief yang sedang menyelesaikan studi. Katel sedang S2 di Bandung. Nji, hmm tidak ada yang tahu. Teman-teman yang lain pasti bertanya ke saya karena saya satu jurusan dengan dia, tapi jujur aja saya udah ga pernah dengar kabar dia sejak…tingkat dua mungkin. Yang mengagetkan waktu itu di tingkat 3, kami impulsively ingin karaokean. Dimulailah dengan menjarkom teman-teman, and guess what? Nji datang, terlihat lebih kurus tapi seperti baik-baik saja, ikut karaokean dengan ceria, dan tak ada kabarnya lagi di kemudian hari. Random.

Omong-omong tentang jarkom, dulu kami semua sengaja membeli kartu perdana 3 saat masih promosi dan SMS gratis. Dan yang kami lakukan adalah group chat lewat SMS. Isinya gilak! Saking parahnya stream SMS saat jarkom biadab itu, handphone saya sering ngehang dan rusak karena 100-an pesan menumpuk dan terus datang. Biadab. Hahaha…

Dulu setiap nongkrong-nongkrong sore di Plawid, kami punya kecengan masing-masing. Lumayan buat cuci mata, namanya juga masih muda. Apalagi Plawid kan tempat lalu lalang segala bangsa. Seperti intel, kami berusaha mencari tau segala informasi tentang gebetan kami. Bukan lewat social media dengan mudahnya seperti sekarang. Maklum saat itu handphone kami masih pada butut, laptop belum punya, pake internet cuma bisa di Comlabs. Entah bagaimana caranya dapeeettt aja segala informasi. Kadang kami sampai mengikuti target ke kelas atau ke tempat makan. Bahkan teman saya sampai nekatnya mengirim salad buah dan es krim ke target. Jeng jeng jeng jeng… Setelah tragedi itu, kelompok kami jadi salting setiap bertemu target yang akhirnya mengenali kami. :))

Untuk semua keseruan keceng-mengeceng itu, mari menundukkan kepala sejenak, merenung dan berterima kasih kepada radar masing-masing yang selalu aware setiap ada kecengan. Hahaha.. Saya pun begitu. Walau mata minus 3, kecengan di seberang lautan terlihat! :p
Sekarang? Radar saya, Ria, dan Ifa rasanya sudah mati. Setelah menemukan pasangan yang rasanya tak tergantikan, sangat susah melihat pria lain. Aheyy… Pria terganteng sekampus berdiri di depan mata juga mungkin tak terlihat. Oh, kecuali kalau ada Robert Downey Jr. atau Kimi Raikkonen di depan mata saya.

Tak terasa hari semakin sore. Kami masih duduk di Labtek 8, memandang hampa ke daerah Labtek 5. Sangat berbeda rasanya duduk di sini saat ini dan beberapa tahun yang lalu. Dulu hidup terasa ringan, tak ada masalah. Hidup adalah saat itu juga. Sekarang? Ya begitulah. Kita mulai memikirkan rencana-rencana untuk masa depan, memikirkan pekerjaan, dan lain-lain.

Akhirnya waktu menunjukkan pukul 14.30. Saya harus kembali ke Bandung, Ria harus bertemu dokter, Ifa harus menuju lab.
Terima kasih untuk pertemuan singkatnya, teman-teman. Sejenak saya merasa muda lagi. Hahaha…
Untuk Ifa, ayo semangat ne-a nya ya. Segera selesaikan dan have fun fun fun sebelum sidang. :)
Untuk Ria, yang kuat ya. Kenangan itu bukan untuk dilupakan, tanpa itu kita ga akan menjadi dewasa seperti sekarang. Simpan lalu lihat lagi dikemudian hari. Sebodoh apapun kelakuan kita di masa lalu, kalau dilihat lagi pasti bikin senyum dan tertawa kok. :)
Pokoknya whatever happens, I wish nothing but the best for you, guys!
Sampai jumpa lagi kapan-kapan. :’) <3

kangen 123… :”(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s