jalan jalan ke kota pahlawan

Hola hola!

Senin sampai Kamis minggu lalu, saya habis ke Surabaya loooh. Kali pertama banget ke kota ini. \o/

Sesampai di Surabaya, rasanya kagum sama kota ini. Banyak taman, pohon rindang di kanan kiri jalan, dan…..ga macet! Kata orang Surabaya-nya sih segitu udah lumayan macet, tapi kalo menurut saya yang tiap hari ngerasain Tol Dalam Kota Jakarta, beuuuh itu mah masih lancaaar.
Ternyata ini hikmahnya hidup di Jakarta, jadi lebih bersyukur. Rasa toleransi terhadap kemacetan pun meningkat. :))

Terus terus, jalanan di Surabaya ini rasanya familiar. Satu segmen jalan sensasinya kayak di Kosambi, Bandung. Jalan yang lain rasanya kayak di Barito, Jakarta. Bagian jalan yang lain rasanya kayak di Braga, Bandung.

Oiya, saat saya ke Surabaya kemarin itu, cuacanya ternyata lagi dingin. Hujan terus sepanjang hari. Padahal kan udah ngiranya Surabaya panas bangett. Agak salah deh udah siapin baju adem adem. :))

Selama di Surabaya, saya menginap di Hotel Santika Gubeng. Hotel ini baruuu banget, baru bulan lalu dibuka. Interior dan eksteriornya minimalis. Masih cling cling. Letaknya strategis. Suka!

Karena namanya business trip, maka agenda perjalanan ke Surabaya ini mostly meeting dan bekerja, ditambah…..makan ini itu, dan setengah hari refreshing ke Bromo! \m/

KULINER

Apabila seorang anak manusia melakukan perjalanan, merugilah ia bila tidak mencicipi kuliner khas daerah tersebut.

Kata orang sih belum ke Surabaya kalo belum makan Rawon.

Untuk yang ga tau rawon, rawon itu semacam masakan daging sapi dengan kuah khas berwarna hitam. Warna hitamnya itu berasal dari keluwak. Rawon biasanya di makan bersama dengan nasi, baby toge dan telur asin.

Malam itu, kami makan Rawon Setan yang terletak di Jalan Embong Malang, depan JW Marriott. Tidak buka cabang, katanya. Tempatnya rameee, banyak mobil parkir di depannya.

Namanya sih ngeri banget ya. Kirain dinamain Setan karena rasanya pedas mampus, seperti Comset, combro setan dari Karawang yang bikin nagih. Ternyataaa namanya Rawon Setan karena dulunya tuh bukanya menjelang tengah malam, jam jam nya setan pada mejeng. Kalo rasa sambalnya sih, menurut saya ga pedas. Hehehe

Selain Rawon Setan, di perjalanan dari Bromo ke Surabaya, saya juga mencoba Rawon Nguling, Probolinggo. Rawon ini juga terkenal. Tempatnya juga strategis dan bisa menampung banyak orang.
Rawon ini disajikan campur sama nasinya. Iya, jadi ternyata defaultnya adalah campur. Kalo kita ga bilang pisah, maka nasi dan rawonnya disajikan dalam satu piring, which is membuat gw makan nasi lebih banyak. T_T

Selain rawon, kuliner lain yang terkenal dari Surabaya adalah Bebek Goreng.

Masih di malam yang sama, setelah makan rawon, kami menuju ke Bebek Tugu Pahlawan. Letaknya di depan monumen Tugu Pahlawan. Bentuknya misbar, gerimis bubar. Hanya tenda bongkar-pasang di depan ruko-ruko yang udah tutup. Tapi emang yang gini gini nih yang biasanya enak.

Di sini sistemnya cepat dan self-service: pesan – disiapkan – bawa piring sendiri ke meja. Di atas piring, sudah disajikan nasi (optional), bebek goreng (bisa pilih paha/dada/jeroan), serundeng, dua macam sambal, dan timun. Rasa bebeknya enak dan empuk, dagingnya lepas semua dari tulangnya. Sambalnya juga enak dan pas.

Walaupun letaknya hanya di tenda seperti itu, Bebek Tugu Pahlawan ini terkenal banget. Kalo jam makan malam, antriannyaaa rame deh pokoknya. Saat itu saja kita datang sudah malam banget dan masih rame aja.

Kuliner lain yang saya coba yaitu Sate Ponorogo Pak Seger yang terletak cukup dekat dengan hotel. Sesungguhnya Sate Ponorogo itu adalah sate ayam dengan bumbu kacang. Sekian. Actually, I’m not a fan of sate ayam, tapi yang ini rasanya lumayan deh. Bumbu kacangnya ga kemanisan dan ga bikin eneg, karena bumbu kacangnya bisa kita campur dengan sambal dan potongan bawang.

Sebenernya selain makanan di atas, masih banyak lagi kuliner khas Surabaya seperti Lontong Balap, Lontong Kupang, dan Rujak Cingur.

Oh, dan ternyata Cingur di rujak cingur itu bukan Cikur alias Kencur. Paaasss banget tadi siang nonton TV dan lagi bahas Rujak Cingur di Pasar Genteng, Surabaya. Cingur ternyata adalah moncong sapiii. Aku ga tega tadi liatnya di tivi T_T

Selain itu, di Surabaya ada tempat makan es krim yang terkenal, Zangrandi. Setelah mendengar deskripsi dari orang-orang, sepertinya es krim Zangrandi ini serupa dengan Ragusa di Jakarta.

OLEH-OLEH

Sebenernya, waktu untuk mencari oleh-oleh selama saya di Surabaya ini sedikit bangettt. Alhasil saya cuma sempat 10 menit untuk beli oleh-oleh di Pasar Genteng. :))
Di Pasar Genteng, saya membeli keripik-keripikan. Keripik nangka, keripik mangga, keripik ceker. Hebat ya orang Indonesia, apa-apa dibikin keripik. Tadi siang aja liat ada inovasi baru, keripik rujak dari Bandung. Atulaaah susah bayangin rasanya. :|

Pas sampai di airport eh baru ngeh deh ada titipan ibunya pacal yang kelupaan, Bandeng Asap! Katanya ini salah satu khas Surabaya juga. Untung aja ada yang jual. Hehehe maap Tante, maap :p

Selain oleh-oleh khas tersebut, sebenernya ada satu lagi nih makanan yang lagi hits di Surabaya. Heitss banget sampai semua orang kayaknya nitip kue yang satu ini. Almond Crispy Cheese.

DSC_1386

Almond Crispy Cheese (sebut saja ACC biar cepet) mengklaim dirinya sebagai oleh-oleh khas Surabaya. Sebenernya sih ini semacam brownies kukus, keripik pedes dan “oleh-oleh” Bandung lainnya. Produk hasil inovasi + marketing yang oke. :D

ACC adalah cookies pipih dengan topping almond dan cheese. Terdiri dari tiga rasa: original, choco dan green tea. Saat saya beli titip temen, cuma ada yang original (bungkusnya doang green tea) dan choco aja. Yang green tea lagi ga produksi sampai bulan depan katanya.

Rasanya light banget dan nagih, mirip cookies tapi crepes. Begitulah.
Kalo soal selera, saya lebih suka yang choco karena rasa coklatnya pas, ga manis. Orang-orang tampaknya lebih suka yang original. Yang original menurut saya mirip sama martabak tipis kering di deket rumah. :))

DSC_1388

Satu kotak ACC harganya 40,000 rupiah. Saat ini baru dijual di outlet-outlet Wisata Rasa aja. Waktu itu ga sempat hunting, saya titip teman. Karena sudah sore, jadinya sudah habis dan harus pesan dulu.
Pagi hari sebelum ke airport saya sempet mampir ke outlet yang di Pasar Genteng sih karena SPV saya juga ingin beli, tapi tinggal tersisa beberapa kotak rasa coklat saja. Stok baru datang jam 1 siang katanya. Kalo mau cepat sebaiknya ke rumah produksinya aja di Jemursari.
Gtu.
Jadi intinya lebih baik pesan dulu kalo mau beli. Atau datang jam 1 siang.

Selain rasa, yang saya suka dari ACC adalah packaging-nya yang oke. Orang-orang kantor ampe ngira ini produk dari luar negeri. Kotaknya tebal dan desainnya oke, sampai sampai saya mikir kalo kotaknya diganti jadi yang biasa aja, mungkin ini harganya bisa 20rb-an aja. :))

Kata temen sih, ACC ini bisa delivery order, tapi minimal satu lusin. Jadi paling kalo mau pesan, kumpulin order teman kantor rame-rame dulu ya. Hehehe

Bukan iklan, tapi sekian promo ACC-nya.
Dear Wisata Rasa, kalo kamu baca ini, aku mau dong gratis ACC yang Choco dikirim ke rumah. Alamatnya PM aja ya. :))

Sekian deh cerita jalan-jalan di Surabaya.
Bromo-nya?
Di next post yaa.

Bye~

Have a great Monday!
Semangattt, working days tahun ini tinggal 5 hari lagi. ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s