Soekarno (2013)

 

Selama 2013, saya hanya menonton satu film Indonesia di bioskop, jadi jelas film ini deserve blog post tersendiri. Hahaha

Image

Soekarno.

Film yang mengesankan!

Rasanya kayak belajar sejarah plus plus. Ceritanya ok, dan film ini didukung oleh aktor-aktor dengan akting top notch. Pasti tidak mudah untuk Masboy eh Ario Bayu untuk memerankan tokoh proklamator.
Sebagian orang berkata bahwa film ini Soekarno-centris banget. Yahiyalaah judulnya aja nama doi. Hahaha

Yang menambah kesan di film ini adalah pemutaran lagu Indonesia Raya di awal film dan para penonton diminta untuk berdiri. OK banget ga sihhh. Mungkin lagu Indonesia Raya di awal film ini bermaksud untuk membakar semangat para penonton ya. Tapi, saya rasa lebih klimaks lagi kalau pemutaran lagu Indonesia Raya ini tepat setelah pembacaan teks proklamasi. :D

Satu yang jadi pertanyaan, apakah Bung Karno selalu bicara a la a la orasi gitu? Misalnya pas nyampe di Stasiun Gubeng, Surabaya, turun kereta lalu menyapa orang orang dengan tone orasi. #seriusnanya

Satu yang jadi catatan, itu dulu kemeja putih sama celana gombrong heiits banget ya sist. *iya iya ga penting*

Dari film ini, saya bisa lihat plus minusnya Soekarno. Ya namanya juga manusia kan bukan dewa. Ada masa-masa di mana dia galau, banyak pikiran, galau wanita, bisa sakit juga. Inilah yang membuat Soekarno di mata saya sekarang jadi terlihat manusiawi.

Selain main character, dari sekian banyak tokoh sejarah yang ada di film itu, yang paling berkesan untuk saya adalah Sutan Sjahrir. Karakternya tegas, lugas, tapi tetap berpikiran jernih. Tetap respect walaupun terlihat selalu kontra dengan Soekarno dan Hatta. Begitupun juga dengan karakter Bung Hatta, terlihat cerdas, kalem dan selalu berpikir sebelum bertindak.

Ohya, kalo di film ini, saya adalah #teamIbuInggit! :))
Yah, walaupun gatau ya kalo secuil sejarah diubah, misalnya Soekarno gajadi sama Fatmawati, nasib Indonesia jadi gimana.
Gara-gara film ini saya jadi ngeh kenapa ada Jalan Inggit Garnasih di Lengkong, Bandung. Gara-gara film ini juga saya jadi cari tau tentang Ibu Inggit.

Bu Inggit adalah ibu kos Soekarno saat di Bandung, mereka menikah tahun 1923, saat itu Soekarno berusia 22 tahun sedangkan Ibu Inggit 35 tahun. Walaupun namanya kurang terdengar setelah kemerdekaan, Bu Inggit lah yang mendukung Soekarno pada masa perjuangan dan masa-masa beratnya di penjara dan pengasingan. Terharu banget lah pokoknya sama Bu Inggit yang sangat lapang hatinya. :’)

Jadi out of topic deh.

Ya begitulah, intinya film ini worth to watch. Semoga di 2014 dan seterusnya, semakin banyak film Indonesia berkualitas. Kurang-kurangin lah itu horor berbumbu jijay yang banyak bertebaran di bioskop. Hih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s