Cerita tentang kantor

Saat ini sore hari waktu Arab bagian Thuwal. Kalo jam segini ditanya lagi apa, biasanya sih anak ini lagi duduk duduk internetan, cari cari resep masakan, beresin rumah, atau siap-siap mau berenang (yang opsi terakhir ini sesungguhnya langka banget sih).

Kegabutan ini (sebenernya ga gabut juga sih, wong ga digaji) dimulai sejak 3 bulan yang lalu.

Jumat, 6 Februari 2015 adalah hari terakhir saya bekerja di PT Huawei Tech Investment. Ga kerasa sudah hampir 3,5 tahun saya bersama perusahaan ini, sejak lulus dan masih lucu-lucunya.
Setelah selama itu bekerja, rasanya agak berat juga pas hari terakhir mau dadah dadah sama temen-temen kantor. Ya bayangin aja 5 days a week, 9 hours (or more!) per day a.k.a. most of my time dihabiskan di kantor.
Lebih sering ngobrol sama temen kantor daripada sama orang rumah.
Lebih sering makan di belakang kantor dari pada makan masakan rumah.

Saat saat setelah resign itu rasanya……pretty much the same with sindrom setelah wisuda.
Kangen temen temen, kangen bandung kantor, kangen jajanan bandung makanan belakang kantor.

Saat saya meninggalkan kantor, posisi saya adalah sebagai Wireless Product Manager, atau mungkin lebih dikenal sebagai Wireless Technical / Solution Sales Manager. Iya, SALES. Bayangin, anak cem saya gini jadi anak sales.
Jujur aja pas pertama kecemplung di dunia ini saya agak agak heran. Oh God why… What in the world am I drowned into?

Masalahnya adalah…I think I am an introvert (am I?). I have no difficulty to work in a team. But…, I really am not good at building a relationship with people, apalagi yang mesti pake basa basi senyam senyum dan mem-persuade orang yang ga kenal kenal amat untuk membeli sesuatu. Kalau disuruh sebutin hal yang saya ga suka, salah satunya ya sales atau telemarketing yang suka sodor-sodorin saya ini itu. Kalau saya butuh ya saya akan nanya dan cari tau, kalau saya ga butuh ya disodorin juga ogah.

Sadly, that’s not how it works in this industry. So, thank God, akhirnya saya “terpaksa” belajar. Hahahaha…
Walaupun masih belum sempurna dan sering diingetin pak mentor “Annisa, kamu sering-sering ke customer ya”, at least pada akhirnya saya jadi counterpart customer yang bisa diandalkan kalau mau tanya ini itu tentang produk. Mihihihi ;)

FYI, setengah tahun pertama bekerja itu bener bener cobaan banget. Di masa masa adaptasi itu, saya sebagai anak bawang masuk tim yang ga jelas role saya di situ apaan. Komunikasi dalam timnya kacau. Saya nanya orang expat disuruh A, nanya orang lokal disuruh B. Wuopooo… Alhasil setiap hari saya bekerja tanpa tujuan, sampai kantor cuma nunggu jam pulang. Hiks.

Akhirnya saya dipindah ke tim baru. Yeay!

Di tim baru ini, alhamdulillah enak banget. Supervisor saya yang orang Cina sungguh baik dan perhatian. Begitupun juga dengan Pak Very yang orang lokal.
Di tim ini, saya benar-benar dibimbing dan perlahan-lahan dilepas supaya mandiri. Sedikit demi sedikit saya diberi tanggung jawab sampai akhirnya bisa handle project sendiri. Untuk hal-hal tertentu pun saya akhirnya menjadi person in charge (iya iya, sebut saja perihal site configuration dan quotation), bisa berkomunikasi dengan project team dan customer sendiri, serta memutuskan sesuatu sendiri.

Dalam bekerja, sesungguhnya saya tidak berambisi mengejar posisi tertentu. Untuk saya, bekerja itu tentang pengakuan dan aktualisasi diri.
Ketika kerjaan saya dinilai bagus,
ketika solusi yang saya berikan dipertimbangkan,
ketika customer lebih memilih bekerja dengan saya ketimbang orang expat,
ketika saya dikenal orang-orang expat dan project karena jago configuration……rasanya berbunga-bunga seperti Syahrini. :”>
(ya ya ya, ini part of self bragging :p )

Selama bekerja di wawei, tekanan pasti ada. Lelah, iya. Kena teguran, iya.
Tapi menurut saya yang penting senyum aja, jangan apa apa di bawa kzl dan emosiong. Kalo ada masalah, motto saya:

what the worst could happen sih?

Coba pikirin solusi dan kerjain aja dulu yang bener. Toh, selama ini masalah datang silih berganti terus beres beres juga kannn. :))

Di luar motto samvach itu, teman teman seperguruan juga penting banget dalam keberlangsungan hidup saya di wawei.
Bikin betah bikin semangat bikin happy kapan pun dalam kondisi apapun. Kyaaa :*

Nah, sekarang ceritanya saya lagi kangen banget sama masa masa itu.
Bangun pagi, mandi, dandan, ngojek, ngompreng, ngantor, nge-customer, macet-macetan, meeting, main-main sama temen kantor, ngelembur, naksi malem-malem.
Semoga sesegera mungkin suatu hari, bisa memulai rutinitas seperti itu lagi dengan teman dan lingkungan yang lebih enak. Aamiin :D

6 thoughts on “Cerita tentang kantor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s