indomie-goreng

Mie Instan

Seperti nature orang Indonesia kebanyakan, saya besar dengan Indomie.

Ibu malas masak, ya Indomie aja.
Pas masih kecil belajar masak apa? Indomie dong.
Bingung makan apa, Indomie aja.
Pokoknya Indomie is part of our life. *lebay*

Keren juga sih si Indomie ini bagaimana dia bisa mendarah daging di raga orang-orang Indonesia. Sampai sampai jarang yang nyebut jenis makanan ini sebagai “mie instan”. Pokoknya apapun merk-nya, sebutannya Indomie. Titik.

Hebatnya lagi, Indomie ini udah go internesyenel pula. Bingung ga bisa makan apa kalo ke luar negeri? Tenanggg, di beberapa negara Indomie di jual di mana-mana kok. Bekel Indomie dari rumah juga praktis. Indomie FTW!
(FYI, di Saudi mungkin karena banyak orang Indonesia, Indomie gampang banget ditemukan. Di supermarket ada, di minimarket ada, kalo ke mall aja ada iklannya).

Nah…herannya, saya ga suka suka amat tuh sama Indomie. Beberapa tahun terakhir malah saya hanya makan indomie satu atau dua kali setahun.

Lah???

Ya, reaksi orang-orang pun macam-macam:

“Whattt?! Anak kosan ga punya Indomie???”
“Indomie itu makanan penyelamat anak kosan tauu!”
“Kamu aneh.”
“Aku speechless………”

Sebenernya awalnya baik-baik saja, tapi……semua itu bermula dari masuknya saya ke HME a.k.a. Himpunan Mahasiswa Elektroteknik…

Dahulu, di markas HME ada penjual mie instan bernama Pak Mamo. Dari pagi sampai malam tanpa lelah Pak Mamo menyeduh mie instan orderan anak-anak himpunan. Karena fasilitas yang seadanya, alhasil pancinya dicuci seadanya dan airnya pun entah kapan diganti. Gimana mie-nya? Baunya awful dan rasanya…entahlah saya tak dapat berkata-kata.

Sejak saat itu, saya pun akhirnya menghindari mie instan. Ga mau makan. Cium baunya pun ogah. Jadi, kalaupun meeting di himpunan, saya duduk jauh jauh dari orang-yang-meeting-sambil-makan-mie-Pak-Mamo. :(

Paling saya berhadapan dengan mie instan ketika pulang ke rumah. Ibu suka buat mie instan ditambah sayuran dan topping macem-macem. Masakan buatan Ibu memang exceptional, selalu luar biasa, mie instan aja rasanya jadi enak kayak mie tek-tek. Apalagi makannya semangkok berdua sama Ibu. Tambah enak. <3

Di luar itu, kemungkinan besar saya tidak dapat ditemukan sedang menyeruput mie instan.

Well, I’ve tried my best to keep my stomach clean by avoiding instant noodle, tapi semua berubah di bulan puasa ini.

Dalam 2 minggu terakhir, kami sudah sahur 3 kali dengan mie goreng instan. T___T

Well, the taste was not so bad, tho. Apalagi kalo pake telor ceplok.
(Sang Suami yang avid Indomie eater pun berkata: “Tuh apa aku bilang, enak kan…~”)

Sedih sih kalo mengingat mie instan tidak baik untuk kesehatan, tapi malas memasak ketika sahur memang tidak ada obatnya.

Dear Suami, abis ini kalau aku malas masak, kita sahur pake roti aja ya biar sehat.
(FYI, ketika post ini di-publish, kami sudah sahur pake roti selama 3 hari berturut-turut. Sekali lagi, malas memasak ketika sahur memang tidak ada obatnya. -_-)

Source gambar: website mie instan favorit kita semua

2 thoughts on “Mie Instan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s