Rating Sosial

Minggu lalu (well, I wrote this post 6 weeks ago and it ended up on the draft folder. I should consider renaming this blog as “Always draft, never publish” -_-) saya menghabiskan waktu liburan di Bekasi. Karena mobil rusak dan musim hujan, alhasil saya sangat mengandalkan aplikasi online cem Grab, Gojek dan Uber. Yeay yeay akhirnya pakai aplikasi kekinian rakyat Indonesia juga. :’)

Note: Sebelumnya, saya hanya menggunakan Uber di Jeddah dan menggunakan Grab saat berlibur ke KL.

Suatu malam, saya dan keluarga order Uber dari mall mau pulang ke rumah. Setelah beberapa menit, akhirnya mas Uber jemput.

Mas Uber (MU): mbak tadi dapet mobilnya susah ga?

Saya (S): ga, alhamdulillah cepet. Kenapa mas, lagi rame ya?

MU: ga, kok ratingnya rendah banget, mbak? Tadinya saya ragu mau accept, soalnya udah jelek banget itu di bawah 4. Driver-driver biasanya gamau soalnya penumpangnya pasti aneh-aneh.

S: whattt?! Masa sih, mas? Saya biasa pake di Jeddah sih. Biarpun driver gabisa bahasa Inggris, saya lost in translation, pake nyasar tapi tetep saya kasih bintang 5.
(ternyata kebaikan ini bertepuk sebelah tangan, c u k u p t a u)

Pas nyampe rumah, saya cari cara cek rating passenger. Ternyata ada di menu help – account lalala – changing lalala – I’d like to know my rating.

Dan jeng jeng jeng:

screenshot_2017-03-27-23-30-06.png

OMG! 3.86! Butut ancor banget. Untung ga dikira psycho sama abangnya. :((

Untunglah ga lama setelah trip tersebut, rating ini meningkat. (I checked again in the following day. Yes, I am that insecure.)

Terima kasih mas Uber, sejuta bintang untukmu. :’)

Skema rating ini somewhat mengingatkan saya pada serial “Black Mirror” episode “Nosedive” (S03E01) yang bercerita alternative reality di mana manusia bisa me-rating sesamanya dari 0-5​. Masalahnya adalah rating ini ngaruh banget di kehidupan. Fasilitas tertentu cuma diperuntukkan untuk orang-orang upper class (rating lebih dari 4 koma sekian). Kalau ratingnya rendah, derita deh hidup lo.

Talking about Black Mirror, sampai sekarang saya belum lanjut nonton lagi karena masih trauma sama pilot episode-nya. That was a brilliant dark story yet so traumatizing.

Advertisements

One comment

  1. @nurulrahma · May 15

    Wohooo taxi online gampil diakses di mana mana yah. Asyiqueee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s