Jalan-jalan ke Jepang

Bulan Maret lalu, saya bersama suami, bapak dan ibu mertua pergi ke Jepang selama kira-kira 12 hari. Perjalanan kali ini sangat sangat sangat berkesan karena ini salah satu destinasi idaman kami. Kenapa Jepang? Karena culture-nya, makanannya, ease-of-travel-nya serta manner/etiquette-nya.

Selama hampir dua minggu kami berkeliling mulai dari Kyoto, Tokyo sampai Hakodate, dengan day trip ke Osaka, Kobe, Hiroshima & Miyajima, Hakone, Yokohama, dan Sapporo. Travel plan yang cukup ambisius, tapi untungnya transportasi di sana memang sangat mudah dan nyaman.

Thousands of torii gates. . #japan #kyoto #torii #shrine

A post shared by Annisa Fitri (@annisafitrii) on

Di post ini saya ga akan membahas detil daerah tujuan wisata, how-to-get-there, dan sebagainya karena terancam berakhir seperti postingan jalan-jalan ke Istanbul (part 1) yang setelah dua tahun berselang, part 2-nya lupa belum mulai ditulis juga. :))

Sejak detik pertama kedatangan kami di KIX hari itu, saya langsung terkesan dengan adab orang Jepang. They are just so punctual, polite, friendly and helpful and discipline and clean and *add many other positive adjectives*.

Pas kami menunggu bus dari KIX ke Kyoto Station, seperti biasa kami berempat mengobrol di antrian, koper di kanan kiri, badan ngadep depan belakang. Lalu, kami ditertibkan bapak petugas biar antrinya lurus ga mencong-mencong. LOL. Sampai 10 menit sebelum keberangkatan, bus masih belum terlihat. Hmm, aneh juga. Tidak lama kemudian, bapak kondektur memeriksa tiket dan bagasi kami, menempelkan tag dan menjejerkan koper sesuai ukurannya. Oh that warm feeling when you see things so well organized! And guess what, dua menit sebelum jam keberangkatan, bus datang, penumpang naik, koper masuk bagasi dan bus berangkat tepat waktu. Standing applause for Japanese efficiency! Hal ini juga membuat saya terpukau ketika boarding pesawat JAL saat mau pulang. Instead of sparing 1 hour to prepare and board the passengers to the aircraft like other airlines do, they did all the things in just 15 minutes.

Di perjalanan menuju Kyoto Station, dari atas bus saya ga lihat satu pun sampah berserak di jalan atau air. Pemandangan seperti ini agak agak seram juga buat saya. Bikin merinding. Terlalu sempurna. Hahaha. Saya yakin ini bukan hasil kerja dari tukang bersih bersih (ada ga sih tukang sapu sapu jalan di Jepang?), tapi hasil kerja dari semua warganya. Saya masih penasaran gimana caranya penduduk satu negara bisa dididik seperti ini. Brainwash? Kalo iya, boleh dong rakyat Indonesia dicuci juga otaknya, biar ga iya iya “bersih pangkal sehat” sebatas di buku teks doang.

Ngomong-ngomong soal kelakuan, saya perhatikan orang Jepang entah mengapa senang sekali mengantri. They basically love to line up for everything. Which is good! Ya ga kebayang kan ya kalo pagi pagi rush hour di Tokyo Station, tapi kemampuan antrinya limit mendekati nol kayak di Indonesia, atau nol besar kayak di Saudi. Yha lo udah di depan keran air wudhu aja bisa diselak dari samping kan udah ga paham lagi. -_-

Kereta datang masih 15 menit lagi, ngapain ya? Buat barisan aja.
Dari kereta belum nyampe mereka udah buat barisan lurus ke belakang.

Pengen Nintendo Switch tapi tokonya belum buka? Bikin antrian aja.
Iya, mereka antri instead of buat gerombolan ga jelas di depan toko.

Mau makan siang di resto A tapi penuh? Buat antrian waiting list deh.
Panjang pula antriannya. Kalo yang ini saya agak heran sih, kenapa ga cari makan di tempat lain aja daripada nunggu lama-lama. Seneng banget sih antri! :))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s