Napak tilas bisnis mebel Ingvar Kamprad di IKEA Museum

Hej hej!

Hari Sabtu kemarin kami sekeluarga berjalan-jalan naik kereta ke Älmhult yang berjarak sekitar 280km dari Linköping demi berkunjung ke IKEA Museum. Perjalanan dari Linköping ke Älmhult dengan kereta memakan waktu sekitar 2 jam dengan satu kali ganti di stasiun Alvesta. Sampai di Älmhult, cuaca sangat gloomy, tapi kami bersyukur karena agenda hari ini hanya kegiatan indoor.

Oiya, selama di Swedia kami jadi sering mengapresiasi sinar matahari, salah satunya dengan cara berkegiatan di luar. Padahal pas di Saudi kayaknya horeaaam pisun ke luar rumah ya Allah hareudang dan panasnya menggigit. Saat ini Swedia mulai memasuki musim gugur dan kami mau menikmatinya dengan berjalan-jalan hihihi. Soalnya, ketika winter tiba, kalau tidak ada salju tuh menyedihkan banget lah. Udah mah dingin, gelap pula. Dunia serasa pakai filter greyscale, ga ada ijo-ijo daun, ga ada warna-warni bunga, langit kelabu dengan matahari yang bersinar sebentar dan ogah-ogahan. SAD! Winter blues is real yo. Memang yang berlebihan itu tidak baik ya. Panas matahari tumpah-tumpah menyiksa, dingin kelabu juga membosankan.


Ketika sampai di Älmhult station, kami hanya perlu berjalan sedikit untuk menuju IKEA Museum. Saat itu jam 10 lewat sedikit dan museum ini sudah buka dengan beberapa pengunjung. Besar juga ya antusiasme orang-orang, niat banget datang ke museum pas baru buka, museum retail furnitur pula. Kalau dipikir-pikir ini kayak misalnya kita datang ke museum pic pic Olympic..!

Tiket masuk ke IKEA Museum adalah 60 SEK untuk dewasa dan gratis untuk anak-anak di bawah 18 tahun. Harga ini juga sudah termasuk free kopi dan teh yang bisa kita ambil di Restaurang. Saat itu, ada free guided tour juga jam 11.30 yang hanya tersedia dalam svenska.

Di museum ini ada beberapa pameran yang dapat kita nikmati, antara lain “Our Roots and Our Story”, “IKEA Through the Ages”, dan “The Many Sides of Ingvar Kamprad”. Oh iya, apakah kamu tau kalau IKEA itu singkatan dari nama founder-nya, Ingvar Kamprad?

Elmtaryd dan Agunnaryd adalah nama pertanian dan desa dia tinggal.

Our Roots and Our Story

Dari ketiga pameran tersebut, pameran yang paling menarik menurut saya adalah “Our Roots and Our Story” yang menceritakan tentang kehidupan di daerah Småland dan perkembangan Swedia di awal abad ke-20. Saat itu, Småland adalah daerah yang sangat miskin dan penduduknya hidup dalam kondisi yang kurang layak. Saking menyedihkannya, ribuan penduduk Småland bersama jutaan penduduk Swedia lainnya bermigrasi ke Amerika demi kehidupan yang lebih baik.

Cukup mencengangkan fakta bahwa negara yang kini saya tempati pernah susah. Luar biasa bahwa dalam waktu kurang dari 100 tahun mereka bisa makmur sejahtera aman tenteram seperti sekarang ini. Ya sebenarnya kalau dipikir-pikir, Korea Selatan yang merdeka dari Jepang cuma 2 hari lebih awal dari Indonesia juga tadinya negara susah banget siiih, tapi sekarang udah wow banget jauh ke mana-mana.

Walaupun berposisi netral dan tidak turut dalam kedua perang dunia, kehidupan di Swedia ternyata tidak lebih baik dari negara lainnya; miskin, kotor, banyak bencana kelaparan dan juga penyakit. Sampai akhirnya di tahun 1930-an, dilaksanakan program bra bostad för alla alias tempat tinggal yang baik untuk semua. Di masa itu, pemerintah membangun banyak sekali apartemen dan housing dengan standar yang baik. Saat itu pula diperkenalkan secara luas standar rumah yang sehat seperti keberadaan toilet di setiap unit, garbage chute system, serta lemari khusus alat-alat bebersih termasuk vacuum cleaner.

Selain masalah kebersihan, Swedia saat itu pun ingin meningkatkan status wanita di masyarakat dengan cara menghasilkan ibu rumah tangga yang well-educated. Salah satu caranya adalah dengan membuat standar dapur yang efisien. Maka, mulai diperkenalkan lah kompor listrik yang tentunya lebih aman dari tungku dan kulkas sehingga keluarga tidak perlu berbelanja setiap hari. Akhirnya dengan program-program tersebut, rumah-rumah yang tadinya kotor dan bau asap pun berubah menjadi rapi dan wangi.

Saat melewati bagian ini, saya baru tau bahwa dapur di apartemen saya sama persiiis dengan yang dipajang ini. Nampaknya si owner belum merenovasi banyak dari tahun 1944 saat apartemen ini dibangun.

Kemudian, setelah masalah tempat tinggal mulai teratasi, mereka pun fokus ke anak-anak sebagai kunci masa depan mereka. Di situ lah bermula banyaknya kebijakan yang mendukung anak-anak, seperti tunjangan anak, pendidikan gratis, dsb. Gimana ya rasanya jadi penduduk Swedia masa itu, setiap beberapa waktu ada aja berita dan program baru, tapi positif! Kayak hidupnya diangkat bareng-bareng gitu. <3


IKEA Through the Ages

Setelah menceritakan tentang Swedia in general, di bagian ini pameran fokus ke perkembangan IKEA yang dibentuk oleh Ingvar Kamprad di tahun 1940-an ketika dia berusia 18 tahun. Muda banget ya…..

Awalnya IKEA hanya berjualan bolpen dan printilan, sampai akhirnya jualan furnitur dan membuka toko pertamanya di Älmhult yang sejak tahun 2016 dialihfungsikan menjadi museum ini. Di bagian ini, mereka menunjukkan layout rumah dengan barang IKEA seri jadul. Selain itu, mereka juga memperlihatkan seragam staf IKEA pada saat pertama kali buka. Elegan ya! Sekarang kan kaos kuning biru gitu doang, hahaha. Oiya di masa-masa awal butik IKEA buka, pengunjung bisa mendapatkan guided tours dari staf yang sudah terlatih dalam hal desain interior. Di masa itu, IKEA pun lebih ingin untuk mempekerjakan ibu-ibu rumah tangga karena konon mereka lebih paham tantangan dan kebutuhan di rumah.

Seragam staf IKEA

Ingen reklam tack! (men gärna IKEA katalogen)

Artinya kira-kira no advertisement please! (but gladly the IKEA catalog). Ternyata, katalog IKEA tuh se-hits itu! Yah saya juga senang sih liat-liat katalog IKEA sambil bayang-bayangin dream kitchen, dream living room, dream furnitures, terus liat-liat harganya, terus udah yuk bangun dulu yuk dari mimpi-mimpinya, hahaha.

BTW, ingen reklam tack ini sampai sekarang masih ditempel di mailbox pada umumnya untuk menghindari junk mail (termasuk mailbox saya sendiri, hehe). Saking umumnya, saya suka berpikir ada ga sih mailbox yang ga ditempelin ingen reklam tack?
Kalau saya ga pasang stiker itu, apa yang terjadi ya?
Apakah mailbox saya beneran akan dibanjiri dengan junk mail?
Lalu, apakah orang-orang masih pada bikin selebaran iklan kalau ga ada yang mau nerima?
Apakah pakpos selalu membawa iklan-iklan tersebut?
Bagaimana perasaan pakpos yang sudah bawa-bawa iklan untuk diposkan, lalu bertemu stiker tersebut?
Apakah mereka akan terus membawa iklan dan berharap suatu hari frase tersebut dilepas dari mailbox?
Terus apa kabar dengan iklan-iklan yang sudah di-print?
*overthinking mode: ON*

Oh iya di bagian katalog ini ada dua display ruangan IKEA yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk berfoto a la cover katalog jadul. Fotonya bisa di-print instan dan gratis!


Titta Musik!

Selain main exhibition yang tadi disebutkan, ada dua pameran tambahan yang sedang berlangsung di museum ini, salah satunya adalah Titta Musik! (Look Music!). Di bagian ini, pengunjung bisa memainkan alat-alat musik dan juga mencicipi ruangan yang dilengkapi dengan produk-produk speaker mereka.

Sejak dulu, IKEA ternyata selalu memiliki line product-nya yang berkaitan dengan musik. Bahkan, dulu mereka juga memproduksi gitar dan piano untuk anak-anak. Saat ini, mereka memiliki SYMFONISK (yang bekerja dengan Sonos) dan FREKVENS untuk item-item seperti speaker dan LED lights.


Facilities

Karena saya berjalan-jalan dengan toddler, hal yang paling jadi perhatian di setiap tujuan adalah: apakah area ini child-friendly? And yes, it is!

Terdapat empat lantai di bangunan museum ini dan kita bebas untuk mendorong-dorong stroller di dalamnya; ruangnya cukup lebar untuk berjalan dengan stroller. Selain itu, mereka juga menyewakan stroller dan kursi roda bagi yang memerlukan.

Lift dan kamar mandi tersedia di setiap lantai, dan yang paling penting: ada nursing room yang nyaman di lantai paling bawah. Nursing room-nya sangat luas dan terang, dan poin plusnya: dia juga berfungsi sebagai praying room!

Selain itu, di museum ini juga terdapat restoran dan toko souvenir. Toko souvenirnya menyediakan berbagai macam merchandise mulai dari gantungan kunci, hiasan dinding dan meja, sampai baju. Kebanyakan item yang tersedia di sini khusus dan tidak dijual di IKEA yang lain. Untuk restorannya, tidak ada yang spesial karena ya makanan sini kan gitu-gitu aja, hahaha. Namun begitu, pilihannya cukup beragam karena tersedia pilihan makanan untuk anak, pilihan ikan, dan juga vegetarian. Jangan lupa klaim kopi dan teh gratisnya di sini!


Älmhult

OK, ternyata kunjungan ke museum IKEA tidak berlangsung lama. Kalau dari artikel yang saya baca, biasanya saat weekend ada creative workshop untuk bikin ini itu, namun sepertinya sedang ditutup sementara. Karena tiket kereta yang kami pesan baru datang 4 jam lagi, akhirnya kami menghabiskan waktu dengan muter-muter kota Älmhult.

Well, kota Älmhult ternyata se-kecil itu. Centrum-nya juga bisa dilewati dengan sekejap, apalagi saat itu weekend dan toko-toko pada tutup. Rasanya seperti di kota mati, hahaha. Nampaknya kalau tidak ada IKEA Museum, beneran tidak ada alasan untuk ke kota ini. Jadi kepikiran, apa yang terjadi kalau founder IKEA tidak berasal dari sini? Apakah daerah ini masih berupa alam liar?

Untuk menghabiskan waktu dan menghangatkan badan, kami fika di cafe dekat IKEA museum. Suka deh ngafe di Swedia. Banyak sekali cafe yang dalamnya “berantakan” tapi cozy dan bernuansa rumahan. “Berantakan” di sini maksudnya interior cafe-nya masih terasa seperti rumah, piring dan gelas sajinya tidak seragam, mungkin semua elemennya dibeli di thrift shop.

Setelah fika, kami akhirnya menunggu di dekat stasiun. Di taman depan stasiun, kami melihat patung Carl Linnaeus, bapak taksonomi, pencetus binomial nomenclature. Di situ saya baru tau kalau dia adalah orang Swedia dan berasal dari sebuah desa di dekat Älmhult.


Wah tidak terasa ternyata kunjungan singkat ke Älmhult dan IKEA Museum jadi tulisan yang cukup panjang. Kalau dilihat dari pameran dan pesan yang disampaikan di museum, nampaknya kehidupan di Swedia seperti yang sekarang ini semua bermula kurang dari 100 tahun yang lalu. Bentuk apartemen yang kecil namun efisien, sampai pentingnya kesejahteraan anak.

Menurut saya, kedatangan IKEA sangat pas waktunya dengan perubahan yang terjadi di Swedia pada masa itu. Konsep IKEA yang simple, flat-packed, dan do-it-yourself juga alih-alih membuat konsumen kabur, malah menjadi kunci kesuksesan. Ya, semua itu kan supaya low cost. Dan buat rakyat biasa-biasa saja, apalagi yang lebih menarik daripada harga yang murah? LOL.

Yup, segitu dulu cerita kali ini. Hejdå!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s