Jalan-jalan ke Jepang

Bulan Maret lalu, saya bersama suami, bapak dan ibu mertua pergi ke Jepang selama kira-kira 12 hari. Perjalanan kali ini sangat sangat sangat berkesan karena ini salah satu destinasi idaman kami. Kenapa Jepang? Karena culture-nya, makanannya, ease-of-travel-nya serta manner/etiquette-nya.

Selama hampir dua minggu kami berkeliling mulai dari Kyoto, Tokyo sampai Hakodate, dengan day trip ke Osaka, Kobe, Hiroshima & Miyajima, Hakone, Yokohama, dan Sapporo. Travel plan yang cukup ambisius, tapi untungnya transportasi di sana memang sangat mudah dan nyaman.

Thousands of torii gates. . #japan #kyoto #torii #shrine

A post shared by Annisa Fitri (@annisafitrii) on

Di post ini saya ga akan membahas detil daerah tujuan wisata, how-to-get-there, dan sebagainya karena terancam berakhir seperti postingan jalan-jalan ke Istanbul (part 1) yang setelah dua tahun berselang, part 2-nya lupa belum mulai ditulis juga. :))

Sejak detik pertama kedatangan kami di KIX hari itu, saya langsung terkesan dengan adab orang Jepang. They are just so punctual, polite, friendly and helpful and discipline and clean and *add many other positive adjectives*.

Pas kami menunggu bus dari KIX ke Kyoto Station, seperti biasa kami berempat mengobrol di antrian, koper di kanan kiri, badan ngadep depan belakang. Lalu, kami ditertibkan bapak petugas biar antrinya lurus ga mencong-mencong. LOL. Sampai 10 menit sebelum keberangkatan, bus masih belum terlihat. Hmm, aneh juga. Tidak lama kemudian, bapak kondektur memeriksa tiket dan bagasi kami, menempelkan tag dan menjejerkan koper sesuai ukurannya. Oh that warm feeling when you see things so well organized! And guess what, dua menit sebelum jam keberangkatan, bus datang, penumpang naik, koper masuk bagasi dan bus berangkat tepat waktu. Standing applause for Japanese efficiency! Hal ini juga membuat saya terpukau ketika boarding pesawat JAL saat mau pulang. Instead of sparing 1 hour to prepare and board the passengers to the aircraft like other airlines do, they did all the things in just 15 minutes.

Di perjalanan menuju Kyoto Station, dari atas bus saya ga lihat satu pun sampah berserak di jalan atau air. Pemandangan seperti ini agak agak seram juga buat saya. Bikin merinding. Terlalu sempurna. Hahaha. Saya yakin ini bukan hasil kerja dari tukang bersih bersih (ada ga sih tukang sapu sapu jalan di Jepang?), tapi hasil kerja dari semua warganya. Saya masih penasaran gimana caranya penduduk satu negara bisa dididik seperti ini. Brainwash? Kalo iya, boleh dong rakyat Indonesia dicuci juga otaknya, biar ga iya iya “bersih pangkal sehat” sebatas di buku teks doang.

Ngomong-ngomong soal kelakuan, saya perhatikan orang Jepang entah mengapa senang sekali mengantri. They basically love to line up for everything. Which is good! Ya ga kebayang kan ya kalo pagi pagi rush hour di Tokyo Station, tapi kemampuan antrinya limit mendekati nol kayak di Indonesia, atau nol besar kayak di Saudi. Yha lo udah di depan keran air wudhu aja bisa diselak dari samping kan udah ga paham lagi. -_-

Kereta datang masih 15 menit lagi, ngapain ya? Buat barisan aja.
Dari kereta belum nyampe mereka udah buat barisan lurus ke belakang.

Pengen Nintendo Switch tapi tokonya belum buka? Bikin antrian aja.
Iya, mereka antri instead of buat gerombolan ga jelas di depan toko.

Mau makan siang di resto A tapi penuh? Buat antrian waiting list deh.
Panjang pula antriannya. Kalo yang ini saya agak heran sih, kenapa ga cari makan di tempat lain aja daripada nunggu lama-lama. Seneng banget sih antri! :))

Drama Korea

Akhir-akhir ini rada sakaw drama Korea. Kayak banyak serial Korea tapi males juga nonton buang-buang waktu kalau ceritanya typical. Typical drama Korea is di mana ada pria wanita dengan kesenjangan sosial yang luar biasa dan banyak chaebol chaebol muda tampan. Yakali kan late 20 jadi CEO padahal kerjanya ga ngapa-ngapain malah cinta-cintaan.

Well, gw selektif begini semua salah Goblin (?)! Mana kebayang cerita yang isinya goblin, grim reaper, deity dan goblin bride bisa feels so relatable. Begitu juga dengan kisah alien yang ratusan hidup di bumi dan jatuh cinta sama artis cacat jiwa (red: My Love from Another Star (Kim So Hyun, Jun Ji-hyun)). Atau cerita punya pacar siluman rubah ekor sembilan (red: My Girlfriend is a Nine-Tailed Fox (Shin Min-Ah)). Kreativitas dalam cerita yang mereka buat sangat menakjubkan. Setelah menonton serial-serial yang seperti itu, entah kenapa kok makin males sama cerita yang “gitu-gitu aja”.

By the way, orang Korea masih heran kenapa Dokkaebi (Gong Yoo) ditranslasi jadi Goblin. Ya emang sih, saya juga awalnya mikirnya Goblin tuh penampakannya kayak gini:

Gringotts_Head_Goblin

Goblin seriusan

Bukan cakep lucu kayak gini:

ac5d4cd59d99b84b66ab4d49b46ddcb0

Bukan cakep cakep kinclong a la pemuda Korea masa kini sih

Perkenalan saya dengan drama Korea dimulai tahun 2002 saat Endless Love (Song Hye Kyo, Won Bin) ditayangkan di Indosiar. *2002 ternyata sudah 15 tahun yang lalu x_x*

Saat itu berarti saya masih SMP, nonton biasanya sama ibu. Lalu nangis bercucuran air mata setiap episode, terutama di episode terakhir yaampun kok gitu banget sih endingnya. :( *15 years and still not able to move on*

Setelah drama tersebut berakhir, mulailah secara rutin bermunculan drama Korea di TV lokal. Mulai dari Winter Sonata (Bae Yong-Joon), Stairway to Heaven (Choi Ji-woo), Full House (Bi Rain), dst. Saat itu, saya belum menemukan teman bergosip Korea. Sampai akhirnya saat kelas 3 SMA saya bertemu Riani yang juga suka drakor dan akhirnya ngobrolin serial Goong setiap hari.

Salah satu hal yang saya suka dari drama Korea adalah jumlah episode-nya yang sedikit. Membuat saya tidak merasa terikat, ceritanya ga maksa dan kualitas serial dari awal sampai akhir tetap oke.

Seperti yang udah diceritain di awal, akhir-akhir ini saya kesulitan memilih drama Korea yang oke. Terima kasih kepada Goblin yang sudah menaikkan benchmark drakor saya. Hahaha. Tapi emang sih drama ini sesuatu banget, soundtrack-nya juga enak semua. Setiap episode baru muncul, saya langsung cari OST nya di Spotify dan masukin ke playlist. Sampai sekarang masih rutin di-play. Dan emang setiap lagunya itu sangat mencerminkan tiap adegan, jadi setiap dengerin bisa sambil bayangin oh kalo OST yang ini tuh scene si A dan B lagi XYZ. Saking bikin baper, kalau denger OST tertentu ada yang bawaannya ceria, ada yang bawaannya bikin mikir, ada yang bawaannya pengen nangis.

By the way, weekend kemarin saya sedang memulai Suspicious Partner (Ji Chang Wook).
Note: saya lebih suka nonton drama yang on going, karena kalau episode-nya sudah tamat, bawaannya pengen binge watching, lalu dalam beberapa hari beres deh.

Saya emang agak bias dengan JCW karena dia cakep cakep cool tapi ga manja gemulai. Pertama liat dia di Healer dan langsung jatuh hati. Serial ini juga cukup berbekas di hati. Ceritanya ga ngebosenin, karakternya menarik, chemistry-nya ok, OST nya bagus. Pokoknya 10/10!

Setelah itu saya menonton JCW di K2, yang sebenernya saya kurang suka ceritanya karena Yoona menye banget ga jelas karakternya. Remove her from the picture will have no effect to the story IMO. Saya lebih setuju JCW sama mamak antagonis karena setiap scene mereka dan chemistry-nya kerasa banget, ampe merinding. Dari serial K2 yang tayang di tvN inilah saya liat trailer Dokkaebi. Kirain cerita cerita historical serius gtu, ternyata kok lucu tapi sedih tapi lucu tapi sedih.

FYI, selain serial tersebut di atas, serial lain yang saya tonton dan cukup memorable, antara lain adalah Reply 1997 (Seo In Guk), High School King of Savvy (Seo In Guk), Sassy Girl Chun Hyang (Han Chae-Young), Scarlet Heart Ryeo (Lee Joon-Gi), IRIS (Lee Byung-Hun), Secret Garden (Hyun Bin), Memories in Bali (Ha Ji-won), That Winter The Wind Blows (Jo In-Sung), Cain and Abel (So Ji-Sub), City Hunter (Lee Min-Ho), … .

Lah banyak ya, kalo diterusin mau sepanjang apa. Sekian dulu deh. :))

Apa sih namanya…

…kalau suka gonta ganti theme blog tapi jarang posting?

Well, setelah masa kuliah, blog ini emang jarang banget di-update. Entah mengapa. By the way, hari gini masih jaman ga sih baca-baca, nge-follow dan nge-link blog orang? :))

Karena saking jarangnya di-update, setiap kali buka WordPress buat nulis postingan baru, saya malah terdistraksi. Eh kok dashboard-nya agak beda, eh kok tampilan writing-nya berubah, eh eh eh ada theme baru nih.

“Ganti theme dulu deh baru nulis,” pikir saya.

Lalu, asik lah saya mencari theme blog baru. Browsing, coba coba, customize lagi. Udah lama lama ngutek ngutek, kadang senang dengan hasilnya, tapi kadang ga suka dan jadilah balik lagi ke theme lama. Sungguh kesia-siaan. Abis itu udah lupa mau nulis apa, atau udah males di depan komputer, dan akhirnya ga jadi posting tulisan baru.

Kelakuan serupa juga terjadi ketika saya ketagihan main The Sims dulu kala. Dulu kala is jaman SMP, which is around 16 years ago. Gile gile gile tua banget!

Dulu saat saya main The Sims, ga ada tuh cita-cita bikin Sim-nya sukses, banyak teman, punya pekerjaan, menikah, punya anak dan mencapai goals lainnya. Pernah saya simulasikan Sim-nya menggangu pasangan orang sampai jadi cinta segitiga lalu berantem. Atau sampai punya anak, lalu diemin anaknya nangis seharian sampai akhirnya diambil Child Care.

Most of the time, saya main The Sims ya untuk buat rumah. Buat rumah seperti rumah ortu saya persis. Buat rumah kakek nenek. Buat rumah idaman. Buat rumah bertema minimalis, bertema antik, bertema futuristik, bertema royal tajir mampus. Biasanya kalau rumahnya udah jadi, Sim-nya cuma dimainin dikit, terus ulang lagi deh game bikin rumahnya! \o/

Btw, saya baru ganti theme blog lhooo. Kali ini disertai dengan satu tulisan kurang berguna. :D

Rating Sosial

Minggu lalu (well, I wrote this post 6 weeks ago and it ended up on the draft folder. I should consider renaming this blog as “Always draft, never publish” -_-) saya menghabiskan waktu liburan di Bekasi. Karena mobil rusak dan musim hujan, alhasil saya sangat mengandalkan aplikasi online cem Grab, Gojek dan Uber. Yeay yeay akhirnya pakai aplikasi kekinian rakyat Indonesia juga. :’)

Note: Sebelumnya, saya hanya menggunakan Uber di Jeddah dan menggunakan Grab saat berlibur ke KL.

Suatu malam, saya dan keluarga order Uber dari mall mau pulang ke rumah. Setelah beberapa menit, akhirnya mas Uber jemput.

Mas Uber (MU): mbak tadi dapet mobilnya susah ga?

Saya (S): ga, alhamdulillah cepet. Kenapa mas, lagi rame ya?

MU: ga, kok ratingnya rendah banget, mbak? Tadinya saya ragu mau accept, soalnya udah jelek banget itu di bawah 4. Driver-driver biasanya gamau soalnya penumpangnya pasti aneh-aneh.

S: whattt?! Masa sih, mas? Saya biasa pake di Jeddah sih. Biarpun driver gabisa bahasa Inggris, saya lost in translation, pake nyasar tapi tetep saya kasih bintang 5.
(ternyata kebaikan ini bertepuk sebelah tangan, c u k u p t a u)

Pas nyampe rumah, saya cari cara cek rating passenger. Ternyata ada di menu help – account lalala – changing lalala – I’d like to know my rating.

Dan jeng jeng jeng:

screenshot_2017-03-27-23-30-06.png

OMG! 3.86! Butut ancor banget. Untung ga dikira psycho sama abangnya. :((

Untunglah ga lama setelah trip tersebut, rating ini meningkat. (I checked again in the following day. Yes, I am that insecure.)

Terima kasih mas Uber, sejuta bintang untukmu. :’)

Skema rating ini somewhat mengingatkan saya pada serial “Black Mirror” episode “Nosedive” (S03E01) yang bercerita alternative reality di mana manusia bisa me-rating sesamanya dari 0-5​. Masalahnya adalah rating ini ngaruh banget di kehidupan. Fasilitas tertentu cuma diperuntukkan untuk orang-orang upper class (rating lebih dari 4 koma sekian). Kalau ratingnya rendah, derita deh hidup lo.

Talking about Black Mirror, sampai sekarang saya belum lanjut nonton lagi karena masih trauma sama pilot episode-nya. That was a brilliant dark story yet so traumatizing.

Sibuk vs Kurang Perencanaan

Hallo… Happy new year!

Luar biasa, ternyata saya baru saja melewatkan 2016 tanpa nge-blog sama sekali.
“Emang ngapain aja sih?”
“(Sok) Sibuk sist.”

Jadi weekend kemarin saya dan suami menghabiskan waktu di rumah dengan bermalas-malasan. Kemudian, kami menonton TED talks tentang time management gtu lah. Kalau sama suami emang tontonan jadi lumayan berkualitas, begitu suami minggir dari TV, ya nontonnya drama Korea lagi. :p

Berhubung mata ini rabun, saya ga liat jelas pembicaranya siapa, pokoknya mbak mbak. Isi talks dia sih intinya waktu itu stretch-able; tinggal bagaimana kita memprioritaskan dan merencanakan waktu tersebut.

Prioritas

Dalam talks-nya, dia mencontohkan karyawan sibuk yang rumahnya bocor. Karena kebocoran itu, dia menghabiskan waktu 7 jam untuk nelpon tukang dan beresin ini itu. Walaupun sibuk, dia sempet-sempetin kan ngurusin rumahnya yang bocor (strecth-able). Tapi, dengan total waktu yang sama atau lebih dikit, apakah dia mau diminta interview atau kasih lecture? Belum tentu. Doi pasti bilangnya busy. Lebih tepatnya sih bukan sibuk ya, tapi itu di luar prioritas.

Jadi, misalnya cucian piring menumpuk atau kenapa saya ga ikut arisan di komplek atau kenapa blog ini ga di-update-update, itu bukan karena saya sibuk-sibuk amat, bisa jadi karena saya memang tidak memprioritaskan aktivitas tersebut.

Perencanaan

Dalam satu minggu, kita punya 168 jam (banyak banget ya dipikir-pikir). Kalau kita bekerja 40 jam seminggu dan tidur 8 jam setiap hari, kita masih ada waktu 72 jam (atau sekitar 10 jam setiap hari) buat melakukan hal lain. Tapi kenapa kita masih selalu merasa sibuk dan ga ada waktu? (Oops, menohok sekali.)

Kita bukannya ga ada waktu, kita cuma ga merencanakan waktu kita dengan baik. Akhirnya jadi banyak waktu yang terbuang percuma ga ada hasilnya. Hal ini dapat disiasati dengan perencanaan waktu yang baik.

Misal: Senin bangun pagi jam 6, olahraga dan strectching 15 menit, baca buku 45 menit, mandi dan siap-siap ngantor 30 menit, sarapan 15 menit, jalan ke kantor 15 menit. Waktu dari pulang kantor (jam 5) sampai bobo (jam 10) bisa dipake buat masak, makan malem, cuci piring, melakukan hobby atau main game, dsb.

Contoh di atas tuh perfect day banget ga sih? Everything emang easier said than done.
Nyatanya? Bangun tidur males-malesan di kasur, terus cek hp ampe ga sadar udah jam 7-an, panik terus mandi dan sarapan buru-buru.

Prioritas dan perencanaan waktu itu sudah mulai saya terapkan di kerjaan. Alhasil, kalendar saya isinya rame banget karena apa-apa saya buat reminder. Mulai dari balas email pak prof ampe nonton di bioskop, semuanya ada di kalendar. Emang kelihatannya freak dan kayak robot, tapi cukup efektif sehingga di akhir hari bisa meminimalisasi kerjaan yang pending dan janji yang terlewat.

Sayangnya, mempraktekkan itu di hidup beneran malah super susah banget karena ada faktor malazzz. Semoga di tahun yang baru ini dengan perencanaan waktu yang baik, kita bisa menjadi orang yang lebih organize dan ga menyia-nyiakan waktu. :)

Nama

Hai hai hai!

So, semalam saya dan Aditya menghadiri gala dinner buat student dan spouse dalam rangka menjelang wisudaan class of 2015. Biar ga wisudaan, kita sih ikutan aja, karena gala dinner means makan gratis means ga usah masak makan malam, yeay!

Selain makan-makan, di acara ini juga ada hiburan musik-musik lokal yang genrenya itu-itu saja. Sembari menikmati musik Arab ajep ajep, kami melihat ada antrian panjang. Ternyata ada photo booth dan calligraphy booth. Kita pilih calligraphy booth pastinya, karena hellowww photo booth mah di Indonesia banyak beut, di mall ampe nikahan orang juga ada.

Ini hasil kaligrafi nama saya:

PSX_20151216_094306

Kewl yaaa. Si mas nya pasti kalo nulis daftar belanjaan juga enak diliat.

Setelah saya post gambar ini di Path, ada komen dari nak Rousyan tentang penulisan nama saya (yang menginspirasi saya untuk nge-post ini, thanks!).

Nama saya Annisa Fitri. Orang tua memberi saya nama demikian karena saya anak wanita yang lahir saat Idul Fitri, artinya juga wanita yang suci. Aamiin.

Tulisan di atas bacanya Anisah Fitri. Dari awal saya ke Saudi, saya heran kenapa orang Middle East selalu nulis nama saya sebagai Anisah, sampai akhirnya room mate saya pas hajj yang orang Egypt jelasin ke saya.

Teman: Your name is beautiful. It’s Arabic word. Do you want me to write it in Arabic?

Saya: Thank you. Yes, sure.

T: (menulis “Anisah”)

S: Hmm…but my name is Annisa, means a woman.

T: Really? But it means friendly person who nice to talk with.

S: ……

Lah, selama 26 tahun ini saya salah mengerti dong. Untung weh artinya masih bagus. Ternyata kalo mau artinya “woman”, namanya ya “Nisa” aja. Hoo, arasseo!

Masalah perbedaan tulisan Latin dan Arabic ini juga terjadi di nama bapak saya. Karena nama saya hanya dua kata (sedangkan kalau mau ke Saudi nama di paspor mesti tiga kata), saya menambahkan nama bapak di belakang nama saya: Rachmad. Nama bapak memang ke-Arab-Arab-an, tapi “dimodif” dikit.

Ketika membuat iqama (Saudi residence ID), instead of رحمت mereka menuliskan sebagai راشماد .

Saya: Hmm tapi mbak, walaupun tulisannya begitu, itu bacanya “Rahmat”, jadi mestinya ditulis sebagai رحمت .

Mbak Arab: Tapi ini bacanya “Rasymad”.

S: Itu bahasa Arab kok, mbak. Di bahasa kami, “ch” dibaca “h” dan “d” dibaca “t”.

MA: Tapi ini dibaca Rasymad, dan saya harus tulis apa adanya.

S: Yowes, ikut kata si mbaknya aja lah.

Jadi, berdasarkan pengalaman ini:

  1. dalam memberikan nama anak mungkin sebaiknya tiga kata,
  2. kalau mau memberikan nama yang ada unsur bahasa asingnya, serap lah apa adanya kalau ga mau dituliskan atau diartikan berbeda,
  3. kalau mau kasih nama anak, cek dulu arti kata tersebut di bahasa lain, jangan sampai artinya jelek.

Untuk poin nomor 3, di sini saya menemukan orang bernama Malass dan Setan. Orang tua pastinya kasih nama yang bagus buat anaknya. Well, saya ga paham artinya Setan dalam bahasa Arab, tapi kalo di bahasa Indonesia, setan dan syaithon artinya sama sama setan. :|

 

 

Pendidikan

Sebagai pasangan muda yang dikelilingi bapak bapak ibu ibu yang sudah memiliki anak lucu lucu, tentunya banyak banget pelajaran yang bisa saya ambil setiap mereka ngobrol ngobrol. Salah satu topik yang paling heitz adalah tentang pendidikan anak-anak.

Salah satu hal yang unik di compound tempat kami tinggal sekarang ini adalah bahwa community-nya (jauuuh) lebih besar dari kampusnya sendiri. Yang kadang membuat saya bertanya-tanya, apakah selain pusing ngurusin hal akademik, pak rektor juga dipusingkan dengan keluhan community tentang bus kampus yang telat dan atap rumah warga yang bocor? Yang lebih unik lagi, dengan community berjumlah 6000++, sepertiganya adalah bocah, dan membuat jumlah student di school >>> student di university.

Sekolah di sini berkurikulum internasional, yang tentu sangat berbeda dengan kurikulum di Indonesia. Di kurikulum ini si anak lebih diarahkan untuk mengenal diri dan potensinya. Kalo suka science ya monggo, kalo anaknya art abis ya monggo. Mereka bahkan dibukakan wawasannya tentang pekerjaan apa yang saat ini belum ada, tapi mungkin bakal lahir saat mereka usia produktif nanti. Ya bayangin aja, jaman emak bapak kita dulu mana kebayang kalo hari gini ada profesi sebagai video blogger.

Salah satu hal yang jadi concern teman-teman di sini adalah ketelatan anaknya untuk calistung dibandingkan dengan anak yang bersekolah di Indonesia. Ya gimana ga, hari gini di Indonesia bocah mau masuk TK udah dites kalkulus sama pidato dulu kali. Luar biasanya lagi, sekarang ada bimbel untuk anak TK (what the…). Meanwhile di luar sana anak anak seumur gitu masih bahagia main main. :))

Menurut saya pribadi sih gapapa ya dijejalin ini itu sejak kecil, asal si anak emang tertarik dan ga tertekan. Toh guru di sini juga bilang, mereka ga bakal buta huruf dan hitung selamanya kok. Pas elementary school, mereka akan bisa baca dan hitung karena ketemu hal itu di sekolah secara regular, saat mereka memang sudah harus fokus untuk belajar.

Yang jadi pertanyaan, apakah perlu bisa baca hitung di usia sedini itu? Apakah dengan bisa baca dan hitung lebih dulu, anak tersebut akan menjadi yang terdepan nantinya?

Language Gap

Haloh! Apa kabar dunia?
Sekarang aku udah kerja loh! 😊

Alhamdulillah 4 bulan yang lalu setelah galau berkepanjangan akhirnya dapet panggilan interview juga. Dan alhamdulillah lancar, langsung diterima dan mulai kerja.

Sekarang aku kerja di salah satu research center di kampus mas nya, jadi admin assistant. Kirain jadi admin assistant santai santai lucuk, ternyata ga juga sih, soalnya kita ngurusin 8 professor dan 100-an postdoc & student. *mabok*
Kerjaannya mulai dari yang penting ampe “penting banget”. Mulai dari ngurusin conference, sampai ngurusin keluhan orang-orang tentang paper shredder yang ga berfungsi karena kepenuhan. 😅

Salah satu yang jadi masalah saat kerja di luar ini adalah urusan komunikasi. Apalagi berinteraksi dengan orang yang nationality dan bahasanya berbeda-beda. Di suatu team lunch, saya baru ngeh kalau kita duduk berdelapan dan nationality-nya ga ada yang sama. Cool!

Dalam komunikasi berbahasa asing, kadang saya wonder apakah orang ngerti dan nangkep, apakah maksud saya tersampaikan, apakah kalimat dan pilihan kata yang saya lontarkan umum digunakan sama native speaker. Kadang walaupun secara struktur kalimat bener, suatu kalimat belum tentu lazim digunakan. Kadang ada juga kata kata dan istilah kece yang biasa mereka gunakan, tapi pas saya diajak ngomong langsung, vocabnya ya muter-muter di situ aja lagi. Hahahuft.

Dalam hal balas membalas email, saya suka mikir lamaaa banget biar kalimatnya ok, ga ambigu dan ga bernada offensive. Kalo lagi stuck, dalam hati suka ngebatin, “asal lo tau, I’m genius in my language.”
*Yaelah nis bahasa Indonesia aja masih campur-campur ga bener* 😂

Batasan bahasa ini ada ok nya juga sih, at least ga jadi gosip-gosipan di kantor dan bisa menahan emosi, soalnya susah buat dipake marah marah. Hahaha… Walaupun ya apa apa jadinya suka terlalu straightforward dan kurang basa-basi. Humm.

Hari ini ceritanya saya lagi lieur karena ada masalah sama satu om prof. Saya sudah berusaha email sejelas mungkin. Ampe minta cek ke temen-temen apakah mereka nangkep maksud kalimat saya. Tapiii, si om prof ini ga ngerti ngerti ampe 3 kali email bolak balik. Berhubung doi orang inggris, saya makin merasa bersalah lah. Apa bahasa inggris saya butut banget ya ampe doi ga ngerti2? Atau, doi memang orangnya rempong aja? Semoga yang kedua sih, berhubung ama prof lain saya akur akur, cuma ama dia doang yang bermasalah terus. 😄

Things We Did in Istanbul (Part 1)

Merhaba!

It was mid of April when I went to campus library with Aditya and found a rack full of Lonely Planet. I was taking the Istanbul guide book home and asking “should we go to Istanbul next month? It looks beautiful!” which Aditya answered with “of course, why not! Just plan the trip, and let me ask my professor if it’s okay for me to take a leave”. Nice!

After got a green light to go, we immediately made the flights reservation, the hostels, and apply for e-visa. We were so excited for this trip! Not more than 2 weeks later, we went to Turkey and stayed for 5 days in Istanbul.

How was Istanbul? It was really really great. Before exploring Istanbul, we got ourselves an Istanbulkart and a Muzekart. Istanbulkart is a smart card for public transportation payment in Istanbul. It can be used for any transportation mode in Istanbul. We got one in the airport and topped it up easily in everywhere. Since the transportation mode in Istanbul is pretty good, this card is very useful. Muzekart is a museum pass that can we buy in one of the museum. The price is 85 TL for 3 days. By using this card, we are able to visit several historical places in Istanbul without having to queue. This card really is a great deal. So, before you go, make sure to check the opening days and hours of each museum so you can plan your museum visits and use this card effectively, LOL. Psst, with this card, we also can get discount on Bosphorus cruise! :p

There are so many things to explore in Istanbul; historical buildings, cultural heritages, local foods, etc.
Check this list of things that we enjoyed during our days in Istanbul for details! :D

Read More

Hurt Locker dan Sereal

2010. Di tahun tersebut, film Hurt Locker memenangkan banyak nominasi Academy Awards, bersaing dengan film Avatar.

Siapa yang gatau Avatar. Kebanyakan orang pasti sudah menontonnya. Tapi, apa itu Hurt Locker? Ga terkenal. Filmnya sendiri baru tayang di XXI setelah menang Academy Awards. Jangan jangan bagus banget. Sebagai sie kesra/kesejahteraan anggota bagian hura-hura di himpunan, segeralah saya jalan ke Ciwalk, beli 50 tiket film, jarkom ke temen-temen, siapa pun yang mau dateng monggo dateng.

Filmnya tentang team explosion disposal di daerah perang. Ceritanya sendiri saya lupa, tidak berkesan ternyata hufft. Sejak saat itu saya ga percaya lagi sama film film pemenang award. Kadang menurut saya bagus, kadang apa banget. Mungkin ekeu aja yang ga ngerti. Tapi, tiap film memang ada pasarnya masing-masing sih.

Nah balik lagi ke Hurt Locker. Dari sepanjang film yang meledak di sana sini itu, ada satu adegan yang memorable banget, klimaks! Yaitu di ending film saat si pemeran utama (Jeremy Renner) balik ke kehidupan normal, grocery shopping, dan cengo di depan rak sereal. Kayaknya dia bingung. (lupa kenapanya, mungkin karena lama ga di rumah)

Hal itulah yang gw banget!
Sekarang tiap belanja sereal, seringkali saya diam termangu. Bingung pilih ini, atau itu.

Sekarang pertimbangannya banyak. Mau Tesco Strawberry Crisp ga bisa. I love strawberry, but my husband loathe it. Mau Honey Flakes, kata suami kemanisan, ga sehat. Mau yang sehat, mahal (eh tapi harga sereal di sini emang agak nyebelin sih). Mau yang murah ya Corn Flakes, cuma ga enak dan ngebosenin.

Akhirnya pilihan jatuh kepadaaa Bran Flakes. Enak, murah. Tapi udah beberapa bulan terakhir ga ada di supermarket sini. KZL. Masuk tahap mikir-mikir dan coba cobi lagi deh.

Jadi beginilah belanjaan minggu lalu:

image

Hasilnya: Müsli Crunchy kurang enak. Tesco Special Flakes lumayan (lebih enak dari Bran Flakes), tapi suka abis juga di supermarket. Heartland Granola Cereal super enak bingits, tapi isinya dikit, buat sarapan tiga hari langsung abis, jatohnya jadi mahal. -_- (perhitungan banget lah kayak emak emak, muahahaha)

Yah gtu deh. Postingan random aja. Jadi, sereal apa kesukaan kamu?