Ke Alaska bersama Bapak

Ke Alaska bersama bapak. Maunya sih beneran, tapi apa daya ini hanya mimpi.

Kalau bicara soal mimpi, genre mimpi saya kebanyakan fantasi, science fiction, dan action. Mulai dari jadi Sailor Moon, melawan monster, sampai ditarik berkali-kali oleh giant squid saat lagi snorkeling sampai mati di abyssopelagic. Huh mimpi yang terakhir itu bikin saya makin benci sama laut. Jadi inget kalau selama 5 tahun tinggal di KAUST yang literally berbatasan dengan Red Sea, ga pernah sekalipun saya pergi snorkeling, mancing, diving, atau boat trip. Hahaha.

Oh iya, mimpi saya jarang sekali melibatkan orang yang dikenal. Biasanya selain saya, karakter lain wajahnya blur. Makanya, sekalinya bertemu karakter yang dikenal, rasanya terbayang-bayang sampai bangun, keinget sampai lama. Misalnya waktu itu saat saya mimpi jadi customer seorang teman yang membuat start-up deterjen super canggih. Bangun-bangun langsung kepikiran, apa kabar ya si teman. Mana akhir-akhir ini tidak terlihat di sosial media. Aku mah gitu orangnya, rajin pakai sosmed tapi jarang berkomunikasi dengan orang lain di sana. Sekalinya ada yang ngilang, kecarian. Maunya apa sih. :’)

Asik ya kayaknya ke Alaska bersama bapak, tapi dalam kondisi seperti ini rasanya mustahil. Oh iya, kebayang ga sih gimana ribetnya berjalan-jalan saat dan pasca pandemi ini? Read More

Bapak millenial

man holding a baby photo

Photo by Flo Maderebner on Pexels.com

Minggu lalu sambil makan siang, saya dan suami mendengarkan podcast #CurhatBabu-nya @sheggario dan @nuchabachri yang berjudul “Bapak Millenial”. Garis besar curhatnya sendiri adalah tentang bagaimana Ario membangun kedekatan dengan anak-anaknya.

Setelah mendengarkan podcast itu, saya jadi ngerasa bener juga ya; bapak bapak angkatan saya, alias bapak millenial itu kok rasanya lebih dekat dengan anak dan ga malu untuk hands-on dengan pengasuhan anak. Aku terharu. T___T

Read More